RADARPEKALONGAN.ID, BATANG – Suara anak-anak kini menjadi bagian krusial dalam arah pembangunan Kabupaten Batang. Dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Anak yang digelar di Aula Kantor Bupati Batang, Selasa (3/3/2026), isu kesehatan mental dan keamanan di dunia digital menjadi bahasan utama yang paling disoroti oleh para peserta.
Bunda Forum Anak Batang, Faelasufa, menegaskan bahwa forum ini sengaja digelar untuk memangkas jarak komunikasi antara pembuat kebijakan dan realitas yang dirasakan anak-anak di lapangan. Menurutnya, sering kali ada jurang pemisah antara apa yang dianggap penting oleh orang dewasa dengan apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh generasi muda.
“Perspektif orang dewasa sering kali berbeda dengan realitas yang dihadapi anak-anak. Karena itu, kami ingin mendengar langsung suara mereka,” ujar Faelasufa di hadapan para peserta dan kepala OPD.
Baca Juga:Safari Ramadan di Panjang Wetan, Wali Kota Aaf Ajak Warga Jaga Ketertiban Selama Puasa di PekalonganBupati Pekalongan Terjaring OTT KPK di Semarang, Ruang Kerja hingga Salon Pribadi Disegel Penyidik
Fokus pada Kesehatan Mental dan Perlindungan Digital
Setelah sempat jeda pada periode 2024-2025 untuk evaluasi kualitas aspirasi, Musrenbang Anak tahun ini hadir kembali dengan format yang lebih partisipatif. Kali ini, Pemkab Batang menggandeng fasilitator dari UNICEF Indonesia untuk memastikan setiap usulan anak memiliki bobot kualitas yang layak masuk dalam perencanaan pembangunan 2027.
Faelasufa menjelaskan bahwa penguatan Kabupaten Layak Anak (KLA) di Batang kini bersandar pada tiga pilar utama: Protect (melindungi), Respect (menghormati), dan Fulfill (memenuhi).
“Kegiatan ini digelar kembali setelah jeda karena evaluasi menunjukkan kurangnya pembaruan dan kualitas aspirasi. Tahun ini, kami rancang forum lebih partisipatif, didampingi fasilitator dari UNICEF Indonesia. Kami ingin mewujudkan Batang sebagai Kabupaten Layak Anak yang mendukung kesehatan mental dan perlindungan digital,” jelasnya lebih lanjut.
Suarakan Penolakan Senioritas dan Pernikahan Dini
Dalam diskusi yang berlangsung hangat, perwakilan anak-anak dari berbagai wilayah di Batang menyampaikan keresahan mereka mengenai praktik senioritas atau perundungan (bullying) yang masih kerap terjadi. Mereka juga mendesak pemerintah untuk memperkuat mekanisme pelaporan yang aman bagi korban kekerasan anak.
Selain itu, penguatan peran keluarga dalam pengasuhan serta pencegahan pernikahan dini juga menjadi poin rekomendasi yang disampaikan kepada pemerintah daerah. Mereka berharap ruang publik di Batang tidak hanya indah secara fisik, tapi juga aman secara psikologis.
