RADARPEKALONGAN.ID, KOTA PEKALONGAN – Aspek kesehatan mental menjadi prioritas baru dalam proses pembinaan di lembaga pemasyarakatan. Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Pekalongan secara resmi menggelar program skrining kesehatan jiwa bagi warga binaan sebagai langkah deteksi dini terhadap kondisi psikologis mereka, Selasa (3/3/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Perpustakaan Bimaswat ini merupakan upaya proaktif pihak Lapas untuk mengidentifikasi gejala awal gangguan emosional, seperti kecemasan, depresi, hingga indikasi gangguan psikotik yang rentan dialami oleh para penghuni jeruji besi.
Dalam pelaksanaannya, petugas menggunakan instrumen Self Reporting Questionnaire-29 (SRQ-29). Para warga binaan diminta mengisi kuesioner tersebut secara mandiri dengan jaminan kerahasiaan jawaban yang ketat, guna memastikan data yang dihasilkan benar-benar akurat sesuai kondisi perasaan mereka.
Baca Juga:Gerhana Bulan Langka 15 Ramadan 1447 H, Ratusan Jemaah di Masjid Mujahidin Kendal Gelar Salat KhusufLansia 90 Tahun di Bojong Pekalongan Tewas Tercebur Sumur Usai Tarawih, Diduga Terpeleset Akibat Pikun
Kepala Lapas Kelas IIA Pekalongan, Teguh Suroso, menegaskan bahwa kesejahteraan mental merupakan pilar yang tidak terpisahkan dari keberhasilan proses reintegrasi sosial warga binaan.
“Kesehatan jiwa merupakan bagian penting dalam pembinaan. Melalui skrining ini, kami dapat melakukan deteksi dini sehingga penanganan dapat dilakukan secara tepat dan berkelanjutan,” ujar Teguh Suroso saat memantau jalannya kegiatan.
Identifikasi Lanjutan Bagi Warga Binaan
Proses skrining yang diawasi oleh Subseksi Bimbingan Kemasyarakatan dan Perawatan (Bimaswat) ini tidak berhenti pada pengisian formulir semata. Setelah proses skoring dan rekapitulasi selesai, tim medis Lapas akan melakukan klasifikasi kondisi masing-masing peserta.
Berdasarkan hasil awal, beberapa warga binaan teridentifikasi memerlukan asesmen lanjutan dan pendampingan psikologis intensif. Data ini nantinya akan menjadi fondasi bagi tim pengamanan dan perawatan untuk menentukan pola pendekatan pembinaan yang lebih humanis dan tepat sasaran.
Teguh menambahkan bahwa pendekatan pembinaan masa kini tidak boleh hanya berfokus pada aspek keamanan fisik semata.
“Melalui kegiatan ini, Lapas Pekalongan menegaskan komitmennya menghadirkan layanan pembinaan yang tidak hanya berfokus pada aspek keamanan, tetapi juga kesejahteraan mental warga binaan,” tambahnya secara lugas.
Program Berkala Demi Kondusivitas Lapas
Lapas Pekalongan berencana menjadikan skrining kesehatan jiwa ini sebagai agenda rutin. Dengan terpantaunya kondisi psikologis warga binaan secara berkala, potensi gangguan keamanan yang dipicu oleh tekanan mental di dalam Lapas dapat diminimalisir secara signifikan.
