RADARPEKALONGAN.ID, KENDAL – Fenomena alam langka menghiasi langit malam di bulan suci Ramadan 1447 Hijriah. Gerhana bulan total yang bertepatan dengan tanggal 15 Ramadan atau Selasa (3/3/2026) malam, disambut antusias oleh ratusan umat Islam di Kabupaten Kendal dengan melaksanakan ibadah Salat Sunah Khusuf (salat gerhana).
Berdasarkan data katalog resmi NASA, peristiwa ini tergolong istimewa karena hanya terjadi empat kali dalam rentang waktu 26 tahun terakhir (2000–2026) yang jatuh tepat di bulan Ramadan. Momen langka ini pun direspons cepat oleh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah dengan menerbitkan instruksi resmi untuk melaksanakan salat gerhana di seluruh tingkatan pimpinan hingga ranting.
Di Kendal, pusat pelaksanaan salat khusuf dipusatkan di Masjid Mujahidin. Sekitar 500 jemaah tampak memadati area masjid untuk mengikuti rangkaian ibadah yang dipimpin oleh Imam Ustadz Abdul Rouf, dengan khutbah yang disampaikan langsung oleh Ketua PD Muhammadiyah Kendal, KH Ikhsan Intizam.
Baca Juga:Dinkes Pekalongan Nyatakan SPPG Kraton Layak Operasi, Standar Keamanan Pangan Ketat Jadi PrioritasSopir Tronton Asal Kulon Progo Tewas Mendadak di Kawasan Industri Kendal, Diduga Serangan Jantung
“Ketika terjadi gerhana bulan, kaum muslimin disunahkan melaksanakan salat khusuf secara berjamaah di masjid atau musala. Gerhana merupakan tanda kekuasaan Allah SWT dan umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah, doa, istigfar, serta sedekah,” tulis petikan instruksi resmi PP Muhammadiyah yang menjadi dasar kegiatan tersebut.
Bukti Presisi Hukum Alam Allah
Dalam khutbahnya, KH Ikhsan Intizam menekankan bahwa keteraturan orbit benda langit, termasuk matahari dan bulan, adalah bukti nyata keagungan sang pencipta. Ia mengutip Surat Yunus ayat 5 yang menjelaskan bahwa Allah menciptakan peredaran bulan dengan perhitungan yang sangat pasti.
Ia mengajak jemaah untuk merenung, jika benda langit saja tunduk pada hukum Allah (sunatullah), maka manusia sebagai makhluk mulia seharusnya lebih taat lagi dalam beribadah.
“Gerhana bulan menjadi bukti bahwa Allah menetapkan peredaran benda langit dengan hukum yang presisi. Kalau alam saja tunduk kepada aturan Allah, bagaimana dengan kita? Apakah akan taat atau justru durhaka?” tegas KH Ikhsan Intizam di hadapan ratusan jemaah.
Melawan Mitos dan Takhayul
Lebih lanjut, KH Ikhsan juga meluruskan berbagai mitos yang berkembang di masyarakat Jawa, seperti kepercayaan bahwa gerhana adalah tanda kematian seseorang atau akibat ulah mahluk mitologi Batara Kala yang menelan bulan.
