Kisah Bagus Satrio Aji, Siswa MTs Muhammadiyah 1 Weleri yang Hafal 30 Juz Al-Qur’an Sejak Usia Muda

Kisah Bagus Satrio Aji, Siswa MTs Muhammadiyah 1 Weleri yang Hafal 30 Juz Al-Qur’an Sejak Usia Muda
ABDUL GHOFUR TAHFIDZ MUDA - Bagus Satrio Aji bersama Kepala MTs Muhammadiyah 1 Weleri, Sabtu (8/3/2026).
0 Komentar

RADARPEKALONGAN.ID, KENDAL – Dunia pendidikan di Kabupaten Kendal tengah bangga atas pencapaian spritual seorang remaja asal Desa Weleri. Bagus Satrio Aji (15), siswa kelas IX di MTs Muhammadiyah 1 Weleri, sukses menuntaskan hafalan Al-Qur’an 30 juz. Keberhasilan ini merupakan buah dari konsistensi yang dibangun sejak ia masih duduk di bangku taman kanak-kanak.

Perjalanan Bagus menjadi seorang hafidz dimulai dari dorongan kuat sang ibu, Wahyu Eko Setyowati. Di usia yang belum genap enam tahun, Bagus sudah menimba ilmu sebagai santri di Pondok Pesantren Darussalam Caruban, Ringinarum. Fondasi utamanya dimulai dari nol, yakni mengenal huruf hijaiyah melalui metode Iqra.

“Sebelum menghafal Al-Qur’an wajib belajar Iqra’ sebagai dasar,” ujar Bagus saat menceritakan awal perjalanannya, Sabtu, 7 Maret 2026.

Baca Juga:Dukung Swasembada Pangan, Polres Pekalongan Kota Tanam Jagung di Lahan 3,4 Hektar Kelurahan KalibarosPipa Perumda Sendang Kamulyan Batang Putus Tertimpa Pohon, Pasokan Air 5.000 Pelanggan Sempat Lumpuh

Grafik Hafalan yang Terus Meningkat

Ketekunan Bagus terlihat dari progres hafalannya yang sistematis. Saat lulus dari SDN 2 Ngawensari, ia sudah mengantongi modal 16 juz. Pencapaian ini kemudian ia sempurnakan di MTs Muhammadiyah 1 Weleri, lembaga pendidikan yang memang dikenal memiliki basis penguatan agama yang solid.

Pada kelas VII, hafalannya bertambah menjadi 19 juz, meningkat ke 24 juz di kelas VIII, hingga akhirnya pada semester ganjil tahun ajaran 2026–2027, Bagus resmi mengkhatamkan 30 juz. Prestasi ini pun telah diuji secara internal dan ia dinyatakan lulus dengan predikat Tahfidz Muda.

Meski terlihat lancar, Bagus mengakui bahwa menjaga hafalan jauh lebih sulit ketimbang sekadar menambah ayat baru. Tantangan teknis seperti ayat yang serupa (mutasyabihat) di surat yang berbeda sering kali menjadi ujian konsentrasi.

“Kesulitan terbesar penghafal Al-Qur’an bukan pada menambah hafalan, tetapi menjaga hafalan tetap kuat dan konsisten sepanjang waktu,” tegas Bagus secara lugas.

Hadiah Umrah dan Kebanggaan Madrasah

Sebagai apresiasi atas dedikasi dan prestasi luar biasa tersebut, Bagus bersama kedua orang tuanya mendapatkan hadiah ibadah umrah dari seorang pengusaha asal Jakarta. Kabar ini disambut haru oleh keluarga besar Triyono, sang ayah, yang mendampingi proses tumbuh kembang Bagus.

0 Komentar