Oleh Rizki Nuansa Hadyan, S.Psi, MM, Psikolog
RADARPEKALONGAN.ID – Ahad pagi itu, seorang istri mengajak suaminya untuk berjualan ke Pasar Tiban untuk menghabiskan stok gamis yang mereka punya.
Mereka bergegas menuju Alun-alun Kajen. Setelah satu minggu sebelumnya mereka sudah mencoba dan tidak mendapatkan pembeli satu pun.
Tapi ahad ini mereka tetap berangkat untuk mencoba peruntungan di sisa bula Ramadhan tahun ini.
Baca Juga:Indonesia akan Batalkan Perjanjian Dagang RI-AS, Setelah Malaysia?Dampak Perang Iran vs Israel-AS terhadap Ekonomi Idul Fitri
Di sudut alun-alun Kajen yang riuh, mereka mencari tempat yang kosong untuk memarkir mobil dan menempatkan barang dagangannya.
Agak jauh karena kalah dengan mereka yang semenjak shubuh sudah berada di lokasi. Namun, tidak seperti Ahad yang lalu, baru saja membuka lapak, beberapa pengunjung yang datang langsung mampir melihat-lihat dan mulai menawar.
Beberapa pengendara motor yang melihat keramaian lapak tertarik untuk berhenti dan memarkir sepeda motor mereka untuk ikut melihat. Dua jam berlalu barang dagangan yang mereka bawa habis terjual.
Sang suami sempat merenung ketika 1 jam pertama yang crowded, siapa yang menggerakkan orang-orang ini datang berkunjung ke lapaknya?
Kami parkir jauh dari keramaian tapi orang-orang ini tetap mendatangi dan membeli gamis kami?
Semua hari menghadirkan cerita yang sama. Ada hari di mana dagangan laris manis, dan ada pula hari ketika barang nyaris tak tersentuh.
Di titik inilah, konsep rezeki dan keikhlasan menjadi bukan sekadar nilai spiritual, tetapi juga mekanisme psikologis yang penting untuk menjaga kesehatan mental.
Baca Juga:Wisuda ke-40 TPQ Al Karomah Tirto Pekalongan Berlangsung Khidmat dan HaruBencana Datang Hak Kesehatan Perempuan dan Anak Jangan Hilang
Sebagai seorang psikolog, saya melihat bahwa cara seseorang memaknai rezeki sangat memengaruhi kesejahteraan emosionalnya.
Pedagang yang memandang rezeki sebagai sesuatu yang sepenuhnya harus sesuai target cenderung lebih mudah mengalami stres, frustrasi, bahkan kelelahan emosional.
Ketika realitas tidak memenuhi ekspektasi, muncul perasaan gagal, tidak cukup, atau bahkan menyalahkan diri sendiri.
Sebaliknya, pedagang yang mampu menginternalisasi makna rezeki sebagai sesuatu yang tidak selalu bisa dikontrol—melainkan diterima sebagai bagian dari dinamika hidup—memiliki ketahanan psikologis yang lebih baik.
Di sinilah keikhlasan berperan. Keikhlasan bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan kemampuan untuk menerima hasil setelah usaha maksimal dilakukan.
