RADARPEKALONGAN.ID, KENDAL – Penetapan Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah (2026) yang jatuh pada hari yang berbeda membuat para pedagang bunga tabur di sejumlah pasar tradisional Kabupaten Kendal harus memutar otak. Mereka kebingungan mengatur ritme ketersediaan stok dan waktu penjualan akibat puncak permintaan yang terpecah.
Kondisi dilematis ini terpantau di tiga sentra utama, yakni Pasar Weleri, Pasar Galih di Kecamatan Gemuh, dan Pasar Boja. Biasanya, omzet penjualan bunga ziarah meroket tajam secara serentak pada H-1 Lebaran. Namun kini, pola kedatangan pembeli menjadi tidak menentu.
“Biasanya H-1 sudah ramai. Sekarang pembeli datangnya tidak bersamaan, ada yang sudah duluan, ada yang masih menunggu,” keluh Siti (45), salah seorang pedagang bunga di Pasar Weleri, Jumat (20/3/2026).
Baca Juga:Target Naik Peringkat Porprov, KONI Kota Pekalongan Gelar Raker Matangkan Strategi CaborCek Langsung! Plt Bupati Pekalongan Kebut Pengaspalan Jalan Kertoharjo-Karangdadap Jelang Lebaran
Dilema Bunga Cepat Layu dan Biaya Perawatan Ekstra
Keresahan serupa dirasakan para pedagang di Pasar Galih, Gemuh. Mereka waswas merugi jika menyetok terlalu banyak lantaran komoditas ini sangat mudah layu.
“Kalau terlalu banyak ambil, takut busuk. Tapi kalau kurang, khawatir tidak bisa memenuhi permintaan,” ungkap Wahyudi (38), pedagang setempat.
Menyiasati ketidakpastian tersebut, pedagang di Pasar Boja memilih menerapkan strategi kulakan secara bertahap. Imbasnya, mereka harus merogoh kocek lebih dalam untuk perawatan ekstra agar kesegaran bunga tetap terjaga.
“Biaya jadi bertambah, karena harus sering disiram dan disimpan lebih hati-hati,” keluh seorang pedagang lainnya di Pasar Boja.
Peluang Cuan dari Dua Gelombang Permintaan
Menanggapi fenomena ini, pemerhati bunga lokal, Istikomah, menilai perbedaan hari Lebaran sejatinya tidak membunuh potensi pasar, melainkan hanya mengubah polanya. Ia melihat ada peluang bagi pedagang untuk meraup untung dari dua momentum yang berbeda.
“Memang tidak seramai biasanya dalam satu waktu, tetapi permintaan tidak hilang. Masyarakat yang terbiasa ziarah pada Kamis tetap membeli lebih awal, sementara yang mengikuti Lebaran Sabtu akan belanja pada Jumat. Ini membuat perputaran tetap ada,” urai Istikomah menganalisis situasi.
Menurutnya, fleksibilitas dalam membaca pola belanja masyarakat yang tengah menjalankan tradisi ziarah kubur adalah kunci. Jika dikelola dengan cermat, pola dua hari Lebaran ini justru bisa meminimalisasi risiko kerugian.
