RADARPEKALONGAN.ID, KOTA PEKALONGAN – Momen kunjungan keluarga pada Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah (2026) membawa berkah tersendiri bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIA Pekalongan. Lewat inovasi program kemandirian bertajuk “Bakso Rutan Lodji”, dua orang narapidana sukses menjual 357 porsi bakso hanya dalam kurun waktu dua hari.
Program pembinaan keterampilan tata boga ini sejatinya telah bergulir selama kurang lebih tiga bulan. Pada hari-hari biasa, kedai bakso di dalam rutan ini mampu menjajakan 40 hingga 50 porsi per hari kepada sesama warga binaan maupun pembesuk. Meroketnya angka penjualan pada momen Lebaran, khususnya pada Minggu (22/3/2026), membuktikan tingginya potensi dan kualitas rasa dari produk olahan para WBP tersebut.
Diserbu Pengunjung, Untung Diputar untuk Pertanian
Dijual dengan harga yang sangat merakyat yakni Rp12.000 per porsi, stan bakso yang digelar di area lapangan Rutan Pekalongan ini diserbu antrean panjang. Selama proses produksi hingga penyajian mangkuk ke meja pengunjung, kedua WBP tersebut mendapat pengawasan dan pendampingan langsung dari petugas demi menjamin standar kebersihan, kualitas daging, dan pelayanan yang prima.
Baca Juga:Kapok Ada Korban Jiwa! Warga Kuripan Pekalongan Serahkan Petasan dan Balon Udara ke PolisiUnik, Terowongan Tol Ringinarum Kendal Kini Disulap Jadi Pasar Dadakan Warga
Staf Subseksi Bimbingan Kegiatan Rutan Pekalongan, Didiek Ardianto, memaparkan bahwa keuntungan dari ledakan penjualan bakso ini tidak berhenti pada kesuksesan satu program saja. Dana yang terkumpul akan diputar kembali sebagai subsidi silang untuk membiayai program kemandirian lainnya di dalam rutan.
“Ke depan, hasil usaha ini akan digunakan untuk mengembangkan kegiatan bimbingan kerja lainnya, seperti yang sudah berjalan yakni ternak maggot, serta mendukung ketahanan pangan di bidang pertanian, seperti pembelian obat-obatan dan pupuk,” jelas Didiek Ardianto merinci alokasi dana pembinaan.
Sistem Premi sebagai Bekal Bebas
Tak sekadar memberdayakan tenaga, pihak Rutan Pekalongan juga menerapkan sistem pemberian premi atau upah bagi hasil kepada WBP yang terlibat sebagai juru masak dan pelayan. Apresiasi finansial ini sengaja disiapkan agar bisa ditabung dan menjadi bekal modal usaha bagi para narapidana ketika kelak kembali ke tengah masyarakat.
Melalui eksistensi “Bakso Rutan Lodji”, momentum Lebaran tidak hanya dimaknai sebagai ajang melepas rindu dengan keluarga, melainkan juga sebagai panggung pembuktian bahwa para WBP memiliki kemandirian hidup dan siap bertransformasi menjadi individu yang produktif. (way)
