Aspek artistik memegang kendali tertinggi (700 poin) yang menilai langsung bentuk, tingkat kerumitan, kerapian, hingga keindahan visual motif dan warna balon. Sementara itu, aspek performa (300 poin) tak kalah penting, meliputi penggunaan tungku yang ramah lingkungan, standar keamanan mutlak, kebersihan area, dan kekompakan kostum tim.
Yadi juga memuji lonjakan kreativitas para peserta tahun ini. Desain balon yang mengudara di babak penyisihan jauh lebih artistik dan out of the box dibandingkan edisi tahun sebelumnya.
Nantinya, duel di babak Grand Final akan kick-off pada pukul 06.00 WIB pagi, dan penjurian ditargetkan rampung pada pukul 09.00 WIB.
Baca Juga:Geger Libur Lebaran! 3 Rumah di Warungasem Batang Ludes Dilalap Api, Kerugian Capai Rp150 JutaSerunya Lomba Langenan Ban Kecepak Batang, Edukasi Lingkungan Berhadiah Kambing di Momen Syawalan
“Nantinya akan diambil enam tim terbaik untuk memperebutkan Juara 1, 2, dan 3, serta Juara Harapan 1, 2, dan 3,” imbuh Yadi.
Jaga Tradisi, Jaga Langit, Jaga Kota
Sejalan dengan misi keamanan penerbangan, Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Dinparbudpora) Kota Pekalongan, Retno Purnomo, menegaskan bahwa festival yang didukung penuh oleh Pemkot Pekalongan, AirNav Indonesia, dan PLN ini mengusung tema besar “Jaga Tradisi, Jaga Langit, Jaga Kota”.
“Harapannya, dengan festival ini tidak ada lagi balon yang diterbangkan secara liar maupun mengganggu area kelistrikan,” tandas Retno Purnomo.
Sebagai penutup manis, partai Grand Final di Stadion Hoegeng nanti juga akan dihiasi oleh atraksi spektakuler dari tim eksibisi tamu asal Wonosobo. Lewat wadah kompetitif yang terorganisir ini, pesona wisata budaya Kota Pekalongan diharapkan semakin berkibar dan tak ada lagi insiden penerbangan balon liar yang membahayakan. (way)
