Harga Bawang Merah di Kendal Anjlok Usai Lebaran 2026, Petani Merugi hingga Puluhan Juta

Harga Bawang Merah di Kendal Anjlok Usai Lebaran 2026, Petani Merugi hingga Puluhan Juta
ABDUL GHOFUR SORTIR - Sejumlah pekerja ibu-ibu menyortir bawang merah untuk dijadikan bibit musim tanam berikutnya, Kamis (26/3/2026).
0 Komentar

RADARPEKALONGAN.ID, KENDAL – Nilai jual komoditas bawang merah di tingkat petani Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, mengalami penurunan yang sangat tajam usai perayaan Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah (2026). Anjloknya harga pasar ini membuat para petani harus memutar otak lantaran menelan kerugian yang tidak sedikit.

Berdasarkan pantauan di salah satu sentra produksi, yakni di Desa Kedunggading, Kecamatan Ringinarum, merosotnya nilai tukar petani terjadi secara drastis. Lahan pertanian seluas satu siring yang pada kondisi normal mampu menghasilkan panen senilai Rp 30 juta, kini jatuh dan hanya dihargai di kisaran Rp 12 juta hingga Rp 17 juta.

Kondisi memprihatinkan ini dikeluhkan oleh Sukisman (59), salah seorang petani setempat. Ia membeberkan bahwa merosotnya harga jual ini sangat mencekik karena tidak sebanding dengan tingginya biaya operasional yang harus dikeluarkan sejak masa tanam.

Baca Juga:Bahayakan Penerbangan, Dishub Pekalongan Larang Keras Terbangkan Balon Udara Liar Saat SyawalanLaris Manis! Napi Rutan Pekalongan Jual 357 Porsi Bakso Saat Libur Lebaran 2026

“Biasanya satu siring bisa sampai Rp 30 juta, sekarang tertinggi Rp 15 juta. Jelas merugi. Biaya pupuk, obat, dan tenaga kerja tetap tinggi,” keluh Sukisman saat dikonfirmasi.

Anomali Cuaca Rusak Kualitas Panen

Lebih jauh, Sukisman menjelaskan bahwa anjloknya harga bawang merah ini tidak lepas dari faktor anomali cuaca yang tidak menentu. Tanaman bawang sangat sensitif terhadap perubahan suhu dan curah hujan.

Curah hujan yang terlampau tinggi di masa pembentukan umbi menyebabkan ukuran bawang menjadi kerdil, menyimpan kadar air terlalu banyak, dan rentan membusuk. Selain itu, kondisi lahan yang lembap juga memicu masifnya serangan penyakit seperti jamur dan busuk daun.

“Warna bawang merah yang terkena hujan berlebihan biasanya warnanya pucat, tidak cerah, dan teksturnya lembek—kurang diminati pasar,” tegasnya merinci alasan di balik turunnya daya beli tengkulak.

Siasat Petani dan Desakan untuk Pemerintah

Guna meminimalisasi kerugian yang semakin membengkak, para petani terpaksa mengambil siasat darurat. Mereka sepakat untuk tidak menjual seluruh hasil panennya ke pasar yang sedang lesu.

“Kami jual sebagian saja untuk kebutuhan, sisanya kami bawa pulang untuk bibit. Kalau semua dijual, nanti malah harus beli lagi,” jelas Sukisman.

0 Komentar