Siasat serupa juga dilakukan oleh Muqodim (58), rekan sesama petani di desa tersebut. Ia mengamini bahwa harga yang terpuruk memaksa mereka menahan sebagian stok panen untuk dijadikan amunisi bibit pada musim tanam mendatang.
“Kondisinya sama, harga turun jauh. Mau tidak mau kami juga harus jual sebagian, sisanya disimpan untuk bibit,” kata Muqodim.
Di tengah ketidakpastian ini, para petani bawang merah di Kendal sangat berharap pemerintah segera turun tangan mengambil langkah konkret guna menstabilkan harga pasar dan memperbaiki rantai distribusi. Jika kondisi krisis harga ini terus berlarut, para petani khawatir tidak akan memiliki cukup modal sehingga terpaksa memangkas jumlah produksi pada musim tanam berikutnya. (fur)
