“Kita tidak tahu siapa yang ada di dalam pesawat itu. Mereka adalah manusia yang memiliki keluarga. Bagaimana jika itu keluarga kita atau bahkan kita sendiri?” kata Alvin mengingatkan dengan nada haru.
Sebagai pengingat, Alvin menceritakan preseden buruk yang pernah terjadi di Brasil. Di sana, sebuah balon udara liar pernah menempel di badan pesawat komersial yang tengah mengudara. Beruntung bagi para penumpang, material balon tersebut tidak mengenai bagian sayap yang sangat vital untuk menyeimbangkan pesawat.
Kehadiran Pekalongan Balloon Festival 2026 ini pun diharapkan terus menjadi pionir dan contoh bagi daerah lain. Sebuah wadah epik di mana pelestarian budaya lokal bisa berjalan harmonis dan bersinergi dengan standar keselamatan penerbangan di langit Nusantara. (way)
