Oleh Rizki Nuansa Hadyan, S.Psi, MM, Psikolog
RADARPEKALONGAN.ID – Pagi itu, di sebuah perempatan Kaliurang, Yogyakarta, mobil yang saya tumpangi melambat.
Seorang loper koran mendekat, menawarkan dagangannya dengan cara yang terasa akrab sekaligus asing—gerakan yang mungkin sudah ia ulangi selama puluhan tahun.
Di antara tumpukan koran dan majalah, mata saya tertumbuk pada satu nama yang mengendap dalam ingatan: Majalah Bobo.
Baca Juga:Rezeki dan Keikhlasan: Perspektif Psikologis dari Mentalitas Pedagang Indonesia akan Batalkan Perjanjian Dagang RI-AS, Setelah Malaysia?
Saya membelinya. Bukan semata karena ingin membaca, melainkan karena dorongan nostalgia—sebuah refleks psikologis untuk kembali ke masa ketika membaca adalah pengalaman yang utuh, bukan sekadar aktivitas sambil lalu.
Namun, di tengah perjalanan itu muncul pertanyaan yang lebih dalam: di mana posisi Bobo dalam kehidupan anak-anak hari ini?
Apakah ia masih menjadi teman setia sebelum tidur, atau telah berubah menjadi artefak budaya yang pelan-pelan ditinggalkan?
Anak saya pun bertanya, Ayah beli apa? Dan saya sodorkan majalah itu, ini bacaan ayah waktu kecil.
Dari Membaca yang Mendalam ke Konsumsi yang Cepat
Secara psikologis, budaya literasi anak-anak di masa lalu dibangun di atas pengalaman yang lambat dan berlapis.
Membaca bukan sekadar memahami kata, tetapi menyelami dunia. Anak-anak menunggu majalah datang, membuka halaman demi halaman, mengulang cerita, bahkan menyimpan edisi favorit sebagai bagian dari identitas kecil mereka.
Proses ini melatih apa yang dalam psikologi disebut deep reading—kemampuan membaca secara mendalam yang melibatkan imajinasi, empati, dan refleksi.
Baca Juga:Dampak Perang Iran vs Israel-AS terhadap Ekonomi Idul FitriWisuda ke-40 TPQ Al Karomah Tirto Pekalongan Berlangsung Khidmat dan Haru
Tanpa bantuan visual bergerak, anak-anak “dipaksa” menciptakan dunia dalam pikirannya sendiri. Mereka membayangkan wajah tokoh, suara percakapan, hingga suasana cerita. Imajinasi bekerja aktif, bukan pasif.
Sebaliknya, anak-anak hari ini tumbuh dalam ekosistem digital yang serba cepat dan visual.
Konten hadir dalam bentuk video pendek, animasi, dan gambar bergerak. Informasi tidak lagi diolah perlahan, tetapi dikonsumsi dalam potongan-potongan singkat.
Perubahan ini melahirkan pola kognitif yang berbeda. Anak menjadi lebih responsif terhadap stimulus visual, lebih cepat berpindah fokus, dan terbiasa dengan instant gratification.
