Menemukan Kembali Majalah Bobo di Perempatan Kaliurang

Majalah Bobo zaman dulu
Majalah Bobo dulu sangat populer, kini tinggal kenangan. (Foto: Kompasiana)
0 Komentar

Ketiga, imajinasi perlu dilatih secara aktif. Orang tua bisa mengajak anak membayangkan tokoh cerita, menebak alur, atau bahkan menciptakan akhir versi mereka sendiri.

Ini membantu mengaktifkan kembali proses berpikir internal yang mulai terpinggirkan.

Keempat, pembatasan penggunaan gadget perlu dilakukan secara bijak. Bukan dengan pelarangan total, tetapi dengan pengaturan waktu yang jelas dan konsisten.

Terakhir, orang tua perlu menjadi teladan. Anak tidak belajar dari instruksi, melainkan dari kebiasaan yang ia lihat setiap hari.

Literasi sebagai Cara Memahami Dunia

Baca Juga:Rezeki dan Keikhlasan: Perspektif Psikologis dari Mentalitas Pedagang Indonesia akan Batalkan Perjanjian Dagang RI-AS, Setelah Malaysia?

Literasi bukan sekadar kemampuan membaca, tetapi cara manusia memahami dunia dan dirinya sendiri. Di masa lalu, anak belajar melalui kedalaman dan imajinasi.

Di masa kini, mereka belajar melalui kecepatan dan visualisasi. Keduanya memiliki nilai.

Namun, tanpa upaya sadar untuk menjaga keseimbangan, ada risiko bahwa generasi mendatang kehilangan kemampuan untuk berhenti sejenak, berpikir lebih dalam, dan merasakan lebih utuh.

Dan mungkin, sesekali, berhenti di perempatan—membeli majalah seperti Bobo—bukan hanya untuk anak, tetapi sebagai pengingat bahwa di tengah dunia yang serba cepat, kedalaman tetaplah kebutuhan dasar manusia.

Penutup

Pada akhirnya, perubahan budaya literasi anak adalah tanggung jawab bersama—orang tua, sekolah, media, hingga negara—untuk memastikan bahwa di tengah derasnya arus digital, anak-anak tetap memiliki ruang untuk membaca secara mendalam, berimajinasi, dan berpikir reflektif.

Orang tua perlu membangun kebiasaan membaca yang hangat di rumah, sekolah harus menghidupkan kembali literasi sebagai pengalaman yang menyenangkan.

Media dituntut menghadirkan konten yang tidak hanya cepat tetapi juga bermakna, dan pemerintah perlu menjaga ekosistem literasi agar tetap hidup dan mudah diakses.

Baca Juga:Dampak Perang Iran vs Israel-AS terhadap Ekonomi Idul  FitriWisuda ke-40 TPQ Al Karomah Tirto Pekalongan Berlangsung Khidmat dan Haru

Sebab, masa depan tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat anak menyerap informasi, tetapi oleh seberapa dalam mereka mampu memahami, merasakan, dan mengolahnya menjadi kebijaksanaan. (*)

*) Penulis adalah Psikolog dan Pengamat Fenomena Psikologi Perkembangan, Wakil Ketua HIMPSI Eks Karesidenan Pekalongan.

0 Komentar