Lebih lanjut, Sukirman menegaskan bahwa tradisi Syawalan bukan sekadar ajang kumpul-kumpul semata, melainkan warisan leluhur untuk mempererat silaturahmi dan merawat kebudayaan lokal.
“Tradisi ini telah diwariskan oleh para leluhur, para kiai, dan para pemimpin kita. Di antaranya, Syawalan menjadi sarana untuk mempererat silaturahmi di antara kita, menjaga kebersamaan, serta nguri-nguri kebudayaan agar terus tumbuh dan berkembang,” paparnya.
Ia juga menaruh harapan besar agar potensi kuliner sego megono dan tradisi Syawalan ini dapat terus dipromosikan sebagai magnet pariwisata.
Baca Juga:Ajaib! Minibus Rombongan Warog Masuk Jurang 20 Meter di Batang, Semua Selamat & Tetap PentasPetasan Balon Udara Jatuh dan Meledak Hancurkan 2 Rumah di Pekalongan, 1 Terluka
“Sego megono beserta tradisi Syawalan ini harus terus kita kampanyekan dan sosialisasikan ke seluruh Nusantara agar menjadi tradisi yang tetap lestari serta mampu mendatangkan wisatawan, baik mancanegara maupun domestik,” tegas Sukirman.
Menutup rangkaian acara, Sukirman mewakili seluruh jajaran pemerintahan tak lupa menyampaikan ucapan selamat dan permohonan maaf kepada masyarakat Pekalongan.
“Atas nama pribadi dan seluruh jajaran Pemerintah Kabupaten Pekalongan, serta seluruh Forkopimda, kami menyampaikan selamat Idulfitri 1447 H, mohon maaf lahir dan batin,” pungkasnya. (yon)
