RADARPEKALONGAN.ID, KOTA PEKALONGAN – Bencana banjir melanda kawasan Pasirsari, Kelurahan Pasirkratonkramat, Kecamatan Pekalongan Barat, Kota Pekalongan. Insiden ini dipicu oleh jebolnya tanggul Sungai Bremi di wilayah Pabean, Kelurahan Padukuhan Kraton, yang memaksa ratusan warga mengungsi sejak Jumat (27/3/2026).
Petaka bermula pada Kamis (26/3/2026) dini hari. Tanggul sisi timur Sungai Bremi dilaporkan jebol dengan dimensi kerusakan sepanjang 15 meter, lebar 3 meter, dan tinggi 2 meter. Ironisnya, meski cuaca saat kejadian terpantau cerah tanpa guyuran hujan, debit air sungai tetap meluap deras menerjang permukiman warga.
Memasuki hari kedua pasca-kejadian, air mulai merendam permukiman padat penduduk di sepanjang Jalan Sutan Syahrir, merata dari RW 03 hingga RW 07. Ketinggian air yang semula berkisar 20-40 sentimeter, terus merangkak naik hingga menyentuh 50 sentimeter akibat limpasan sungai dan dorongan gelombang pasang. Kondisi darurat ini mendesak warga untuk segera mengevakuasi diri ke tempat yang lebih aman.
Baca Juga:Harga Cabai dan Tomat di Batang Terjun Bebas Usai Lebaran 2026, Emak-emak SenangArus Balik Lebaran, 4 Perlintasan KA Tanpa Penjaga di Kendal Jadi Titik Rawan Maut
Ratusan Pengungsi Didominasi Kelompok Rentan
Berdasarkan data pembaruan BPBD hingga Senin (30/3/2026) pukul 13.00 WIB, tercatat sebanyak 259 jiwa dari 90 Kepala Keluarga (KK) masih bertahan di sejumlah posko pengungsian. Mayoritas warga yang mengungsi merupakan kelompok rentan, yakni kalangan lansia, anak-anak, dan balita, yang sangat membutuhkan suplai logistik dan pemantauan kesehatan esktra.
Para pengungsi saat ini tersebar di empat titik utama:
- Eks Aula Kelurahan Kraton Kidul: 116 jiwa
- Aula Kelurahan Pasirkratonkramat: 79 jiwa
- TPQ Madinatul Ulum: 53 jiwa
- Aula Kecamatan Pekalongan Barat: 11 jiwa
Penanganan Darurat dan Perkuatan Tanggul
Merespons situasi darurat, tim gabungan yang terdiri dari BPBD, TNI, Polri, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR), relawan, serta warga setempat langsung bergerak ke lokasi. Selain berfokus pada evakuasi korban dan pendirian posko lengkap dengan layanan kesehatan, tim teknis juga berjibaku menutup titik tanggul yang jebol.
Penutupan darurat dilakukan dengan metode pemasangan ratusan karung pasir (sandbag) dan trucuk bambu penahan, sembari mengoperasikan pompa penyedot air secara maksimal untuk mengurangi debit genangan di area permukiman.
Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Kota Pekalongan, Budi Suheryanto, mengonfirmasi bahwa proses penanganan darurat tanggul telah membuahkan hasil yang signifikan.
