Cara Unik Petani Dayunan Kendal Lawan Konflik Agraria Lewat Festival Jogo Lemah Urip, Ini Maknanya!

Cara Unik Petani Dayunan Kendal Lawan Konflik Agraria Lewat Festival Jogo Lemah Urip, Ini Maknanya!
ABDUL GHOFUR PERLAWANAN - Tradisi tumpengan dan doa bersama digelar sebagai simbol perlawanan dalam rangkaian Festival Jogo Lemah–Urip Kawulo Alit di Dukuh Dayunan, Desa Pesaren, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Kendal, Sabtu (4/4/2026).
0 Komentar

RADARPEKALONGAN.ID, KENDAL – Ada pemandangan yang tak biasa sekaligus menggetarkan hati di Dusun Dayunan, Desa Pesaren, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Kendal.

Di saat konflik agraria kerap diwarnai dengan ketegangan fisik, Paguyuban Tani Kawulo Alit Mandiri Dayunan justru memilih jalan sunyi yang elegan. Mereka menggelar sebuah acara bertajuk “Festival Jogo Lemah–Urip” sebagai panggung perlawanan atas sengketa lahan yang telah membelenggu warga selama puluhan tahun.

Selama dua hari berturut-turut, festival ini disulap menjadi episentrum pergerakan. Diisi dengan diskusi publik yang bernas, aksi solidaritas, hingga gemuruh panggung kebudayaan, warga Dayunan mengirimkan pesan menohok: mempertahankan tanah tak melulu soal ketok palu di pengadilan, tapi juga lewat gerakan sosial dan pelestarian budaya.

Baca Juga:Diikuti 30 Tim Lintas Daerah, Turnamen Sepak Bola Purwodadi Cup 2026 Pekalongan Resmi DigelarBikin Ngiler! Bisnis Semprot Mangga di Kendal Kian Menggiurkan, 1 Pohon Hasilkan 3 Kuintal Cuannya Segini

Acara yang digelar sarat makna ini sukses menyedot perhatian berbagai elemen. Mulai dari aktivis lingkungan, barisan mahasiswa, hingga lembaga bantuan hukum (LBH) turun gunung ke Dayunan. Kehadiran mereka membuktikan bahwa jeritan petani Dayunan bukan lagi isu lokal pinggiran, melainkan telah menjadi sorotan publik yang lebih luas.

Tanah Adalah Nyawa

Ketua Paguyuban Petani Kawulo Alit Dayunan, Trisminah, mengungkapkan penderitaan warga dengan nada bergetar. Baginya, hamparan tanah yang tengah mereka pertahankan mati-matian ini bukanlah sekadar aset pundi-pundi rupiah, melainkan nyawa dan sumber penghidupan segenap keturunan.

“Menjaga tanah adalah menjaga kehidupan. Tanpa tanah garapan, tidak ada keberlanjutan hidup bagi kami,” tegas Trisminah di sela-sela kegiatan festival, Minggu (5/4/2026).

Trisminah menambahkan, warga desa tak mau hanya pasrah menunggu proses hukum yang berbelit dan panjang. Lewat festival ini, mereka ingin membuka mata masyarakat luas agar memahami akar sengketa yang menderai desa mereka.

Sebagai informasi, jerih payah warga Dayunan mengelola lahan sengketa tersebut bukanlah cerita baru, melainkan telah diwariskan turun-temurun sejak era 1970-an. Bagi mereka, tanah itu adalah sejarah dan identitas agraria. Namun, ketenangan warga terkoyak ketika muncul klaim dari pihak perusahaan yang kemudian berujung pada sengketa hukum berkepanjangan.

Pesan Damai dari Kepala Desa

Di tengah bara semangat perlawanan warga, Kepala Desa Pesaren, Ngahadi, turut hadir memberikan pesan penyejuk. Ia mewanti-wanti warganya agar tidak terpancing provokasi yang bisa merugikan perjuangan panjang mereka sendiri.

0 Komentar