RADARPEKALONGAN.ID, KOTA PEKALONGAN – Kabar gembira bagi para pahlawan pangan di wilayah pesisir Pekalongan Utara! Lahan bekas banjir rob yang selama ini dikenal mematikan bagi tanaman karena tingginya kadar garam, kini siap disulap menjadi lumbung padi yang subur.
Terobosan canggih ini terwujud lewat sentuhan teknologi digital farming dan sistem bioremediasi. Inovasi ini hadir sebagai solusi konkret untuk mendongkrak produktivitas padi salin (tahan garam) di lahan-lahan eks rob yang selama ini menjadi momok menakutkan bagi petani.
Asisten Manajer Unit Pengembangan UMKM Bank Indonesia (BI) Tegal, Muhammad Abror Widigdo, membeberkan bahwa pihaknya turun tangan langsung untuk membantu para petani pesisir melek teknologi.
Baca Juga:Tumpukan Sampah Menggunung di Jembatan Kaliwungu Kendal, Bau Busuk Ganggu Aktivitas SekolahAkses Sempat Putus, Kodim Pekalongan Bangun 3 Jembatan Gantung untuk Dorong Ekonomi Warga
Pernyataan ini disampaikannya di sela-sela kegiatan capacity building pengembangan padi salin berbasis teknologi, baru-baru ini.
“Bank Indonesia memfasilitasi pembuatan demplot (lahan percontohan) seluas tiga hektar berbasis aplikasi digital untuk memantau kondisi tanaman secara akurat,” jelas Abror antusias.
Bukan Cuma Panen, Jadi Pusat Benih Unggul!
Abror menjelaskan, kecanggihan aplikasi digital ini memungkinkan petani memantau perkembangan dan kondisi tanaman mereka secara real-time langsung dari genggaman.
Lebih hebatnya lagi, hamparan demplot seluas tiga hektar itu tak hanya difokuskan untuk menghasilkan beras konsumsi semata.
“Sebagian lahan juga diproyeksikan menjadi pusat perbenihan padi biosalin unggul guna menjamin ketersediaan bibit tahan intrusi air laut,” ungkapnya.
Dengan adanya pusat perbenihan mandiri ini, ke depannya para petani pesisir Pekalongan tidak perlu lagi pusing mencari stok bibit padi yang bandel dan kebal terhadap gempuran air asin.
Abror juga optimistis bahwa intervensi teknologi presisi dalam pengelolaan pertanian ini akan menjadi tameng ampuh bagi para petani untuk menghindari kerugian besar.
Baca Juga:Banjir Hadiah! Ribuan Peserta Ramaikan Lomba Mancing Wali Kota Cup II Pekalongan di Cemoro SewuSukses Tingkatkan Hasil, Unimus dan Petani Kendal Panen Perdana Padi Inpari 32 Lewat Skema Korporasi
“Melalui penerapan teknologi yang presisi, risiko gagal panen akibat faktor alam diharapkan dapat diminimalisir secara signifikan,” terangnya.
Langkah transformasi menuju pertanian digital (digital farming) ini menjadi bukti nyata bahwa lahan pesisir bekas rob tidak selamanya mati. Di bawah pendekatan ilmu pengetahuan dan sentuhan teknologi kekinian, lahan kritis pun bisa kembali menjadi ladang cuan yang menjanjikan bagi kesejahteraan petani! (nul)
