Imbas Konflik Global, Harga Kedelai di Pekalongan Tembus Rp 10.800, Perajin Tempe Makin Pusing

Imbas Konflik Global, Harga Kedelai di Pekalongan Tembus Rp 10.800, Perajin Tempe Makin Pusing
TRIYONO NAIK - Harga kedelai di pasaran Kabupaten Pekalongan terus mengalami kenaikan dalam beberapa waktu terakhir.
0 Komentar

RADARPEKALONGAN.ID, KAJEN – Harga komoditas kedelai di pasaran Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, terpantau terus merangkak naik dalam beberapa waktu terakhir. Lonjakan harga ini dilaporkan terjadi secara bertahap setiap harinya dengan kisaran kenaikan mencapai Rp 100 per kilogram.

Hingga saat ini, banderol harga kedelai di tingkat eceran telah menembus level Rp 10.800 per kilogram. Padahal sebelumnya, komoditas bahan baku utama pembuat tempe dan tahu ini masih stabil di angka bawah Rp 10.000 per kilogram. Tren kenaikan harga ini mulai terasa dan dikeluhkan sejak momentum menjelang perayaan Idulfitri 1447 Hijriah lalu.

Sejumlah faktor makroekonomi disinyalir menjadi biang kerok lonjakan harga kedelai di pasaran. Salah satunya adalah imbas ketidakpastian geopolitik global, seperti eskalasi konflik antara Iran dan Israel. Dinamika tersebut dinilai turut mengganggu rantai pasokan dan memicu fluktuasi harga bahan pangan impor di dalam negeri.

Baca Juga:Tumpukan Sampah Menggunung di Jembatan Kaliwungu Kendal, Bau Busuk Ganggu Aktivitas SekolahAkses Sempat Putus, Kodim Pekalongan Bangun 3 Jembatan Gantung untuk Dorong Ekonomi Warga

Situasi fluktuatif ini memukul langsung keberlangsungan usaha perajin tempe lokal. Mereka mengaku kewalahan dalam menekan pembengkakan biaya operasional. Terlebih lagi, eskalasi harga tak hanya terjadi pada bahan baku kedelai semata, tetapi juga merembet pada komponen penunjang produksi seperti melambungnya harga plastik pembungkus.

Tekanan beban biaya ini memaksa para perajin untuk memutar otak agar dapur tetap mengepul. Beberapa dari mereka mulai menyiasatinya dengan mengurangi volume ketebalan tempe hingga mewacanakan kenaikan harga jual, meski hal itu dibayangi oleh risiko lesunya daya beli masyarakat.

“Kenaikan harga kedelai membuat perajin tempe pusing,” ungkap Niti, salah seorang perajin tempe asal Kecamatan Kesesi, Pekalongan.

Dampak penyusutan ukuran tempe akibat membengkaknya ongkos produksi ini pun turut dirasakan oleh para pedagang makanan di sektor hilir. Party, salah seorang pengecer makanan matang, mengonfirmasi bahwa ukuran tempe di pasaran kini menyusut drastis.

“Karena perajin tempe mengaku harga bahan baku naik, yaitu kedelai naik,” ujar Party membenarkan fenomena tersebut.

Merespons ketidakstabilan ini, para perajin dan pelaku usaha mikro berharap adanya intervensi dari pemerintah daerah maupun pusat. Regulasi dan solusi konkret untuk menstabilkan harga kedelai dinilai sangat mendesak agar roda ekonomi masyarakat bawah tetap berputar dan pasokan protein nabati harian warga tetap terpenuhi. (yon)

0 Komentar