Cegah Gagal Panen Imbas Longsor, Petani Gondoharum Kendal Rawat Irigasi Lewat Tradisi Dawuhan

Cegah Gagal Panen Imbas Longsor, Petani Gondoharum Kendal Rawat Irigasi Lewat Tradisi Dawuhan
ABDUL GHOFUR DAWUHAN - Sejumlah petani Desa Gondoharum menyusuri saluran irigasi Wangan Blawong di tengah hutan untuk melakukan Dawuhan, menjaga aliran air demi keberlangsungan pertanian, Minggu (12/4/2026).
0 Komentar

RADARPEKALONGAN.ID, KENDAL – Sektor pertanian di Desa Gondoharum, Kecamatan Pageruyung, Kabupaten Kendal, tengah dihadapkan pada tantangan berat. Saluran irigasi utama yang menjadi urat nadi pengairan lahan warga, yakni Wangan Blawong, mengalami penyumbatan dan kerusakan akibat bencana longsor.

Merespons kondisi krisis tersebut, para petani setempat tidak tinggal diam. Demi mencegah matinya komoditas pertanian, mereka bergotong royong menggelar “Dawuhan”, sebuah tradisi turun-temurun berupa kerja bakti membersihkan saluran pengairan.

Saluran Wangan Dukuh Blawong sendiri membentang sepanjang kurang lebih tiga kilometer membelah kawasan hutan. Air dari aliran inilah yang selama ini menghidupi aneka komoditas andalan warga, mulai dari padi, jagung, hingga perkebunan kopi.

Baca Juga:Awas Offside! DPRD Ingatkan Plt Bupati Pekalongan Tak Bisa Asal Mutasi Pejabat & Pakai Mobil G1Wawalkot Balgis Ajak ASN Pekalongan Hemat Energi, Wacana Berkantor Naik Sepeda Disiapkan

Sekretaris Desa Gondoharum, Nur Hasan Rokhim, mengungkapkan bahwa warga harus berjalan kaki menyusuri jalan setapak di tepi tebing dan menembus hutan dengan membawa peralatan manual seperti cangkul, sabit, dan gergaji demi menormalisasi aliran air.

“Kami harus memastikan air tetap mengalir. Kalau tidak, tanaman kami bisa gagal panen,” ungkap Nur Hasan Rokhim saat dikonfirmasi, Minggu (12/4/2026).

Ancaman Cuaca Ekstrem dan Harapan Turun Tangan Pemerintah

Nur Hasan memaparkan, cuaca ekstrem yang melanda kawasan tersebut belakangan ini memicu longsor di sejumlah titik krusial saluran irigasi. Akibatnya, material tanah dan bebatuan menutup aliran air sehingga distribusi ke lahan pertanian terputus.

“Air adalah nyawa bagi tanaman kami. Jika saluran tersumbat, maka harapan kami ikut tertimbun,” tegasnya memberikan perumpamaan.

Kondisi infrastruktur yang rusak ini praktis memaksa para petani memeras keringat lebih ekstra. Tak hanya bekerja keras membersihkan sumbatan, mereka juga harus bertaruh keselamatan karena medan tebing yang sewaktu-waktu rawan terjadi longsor susulan.

Namun di tengah kesulitan tersebut, nilai kearifan lokal justru semakin menguat. “Semangat gotong royong tetap menjadi kekuatan utama masyarakat. Tradisi Dawuhan tidak hanya menjadi upaya teknis pemeliharaan irigasi, tetapi juga simbol kebersamaan dalam menjaga warisan leluhur,” imbuh Nur Hasan.

Kini, para petani Gondoharum sangat menggantungkan harapan pada pemerintah daerah untuk memberikan dukungan perbaikan fasilitas. Kehadiran dan intervensi pemerintah untuk membenahi saluran Wangan Blawong amat dinantikan, mengingat fungsinya yang sangat vital sebagai penopang utama ketahanan pangan desa. (fur)

0 Komentar