RADARPEKALONGAN.ID, BATANG – Puncak perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-60 Kabupaten Batang dipastikan bakal berlangsung spektakuler dan jauh lebih megah dari tahun-tahun sebelumnya! Acara Kirab Budaya yang paling dinanti-nanti warga ini siap menyuguhkan visual memukau dengan mengusung kentalnya nuansa Kasultanan Yogyakarta.
Tak tanggung-tanggung, parade budaya tahun ini juga menyiapkan 17 gunungan hasil bumi melimpah yang akan dibagikan sebagai bentuk syukur kepada masyarakat luas.
Lurah Kirab, Bambang Suryantoro Sudibyo, membeberkan bahwa konsep parade tahun ini memang sengaja dirombak dan diberi sentuhan baru agar tampil beda.
Baca Juga:Kasus Koperasi Bodong di Batang, 16 Pedagang Lapor Polisi, Pengawasan Disperindagkop Disorot TajamCegah Gagal Panen Imbas Longsor, Petani Gondoharum Kendal Rawat Irigasi Lewat Tradisi Dawuhan
“Yang berbeda mungkin dari sisi pakaian, kita tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Kali ini mengarah ke konsep Kasultanan Jogja,” ujar Bambang saat memberikan bocoran di Pendopo Kabupaten Batang, Minggu (12/4/2026).
Datangkan Kereta Kencana dari Solo
Untuk menambah aura sakral layaknya keraton sungguhan, panitia rela mendatangkan properti khusus dari luar kota. “Kereta kencana kita pinjam dari Solo,” ungkap Bambang antusias.
Antusiasme peserta pun dipastikan meledak. Kirab megah ini bakal diikuti oleh 86 kelompok dengan total massa diperkirakan tembus lebih dari 1.600 orang! Rombongan ini terdiri dari jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Sekolah Luar Biasa (SLB), tokoh masyarakat, hingga kehadiran para mantan bupati.
“Jika rata-rata 20 peserta per kelompok, totalnya sekitar 1.600 orang, bahkan bisa lebih karena ada yang mengirim lebih dari itu,” jelasnya.
Makna Mendalam & Antisipasi Rebutan Gunungan
Adapun perayaan HUT ke-60 tahun ini mengusung tema besar “Batang Gumregah, Rahayu Barokah, Datan Kantun Budaya Luhung, Kuncara Hanjayeng Bawana”. Tema berbahasa Jawa ini punya makna filosofis yang sangat dalam.
“Intinya, Batang diharapkan bisa semakin bersinar dan dikenal dunia. Mari kita nguri-uri (melestarikan) budaya sekaligus mengenang para pendiri Batang, agar generasi muda tetap ingat sejarahnya,” tegas Bambang penuh harap.
Nah, buat warga yang bersiap menanti 17 gunungan (berasal dari 15 kecamatan dan 2 dari Pemda), panitia punya aturan main baru. Demi faktor keselamatan, tradisi rebutan gunungan yang kerap ricuh kini ditiadakan!
