Kisah Ketegaran Rumaisha, Rela Melepaskan Suaminya Malik Demi Agama Islam (Part 1)

Kisah ketegaran Rumaisha
Ilustrasi Rumaisha binti Milhan demi agama Islam ia rela melepaskan suami tercinta (Freepik.com)
0 Komentar

RADARPEKALONGAN.ID – Adakah hati yang mampu menandingi kisah ketegaran Rumaisha? Ya, perempuan Madinah di kuartal pertama abad ke-7 Masehi ini rela melepaskan suaminya, Malik, demi agama baru ia temukan dan yakini kebenarannya: Islam.

Adakah hati yang tak menanggung lara saat mendengar kisah ketegaran Rumaisha, melepaskan cinta suaminya demi cinta sejatinya pada Tuhan dan Rasullullah. Menjadi berat mengingat Islam sendiri saat itu berstatus agama baru yang asing bagi mayoritas penduduk Madinah yang masih menyembah berhala.

Rumaisha sebutan untuk perempuan tegar, cerdas dan teguh pendirian itu harus rela melepaskan suami tercinta demi agama Islam. Sang suami murka mengetahui istrinya memeluk agama Islam dan meninggalkan agama nenek moyang Madinah kala itu.

Baca Juga:Mengagumkan Inilah 7 Hikmah Puasa Bulan Ramadan, Simak Ulasannya3 Tempat Wifi Gratis Kabupaten Pekalongan dan Cara Memanfaatkannya

Kisah ketegaran Rumaisha berawal saat perempuan dari Yastrib (nama kota sebelum menjadi Madinah) ini menerima ajakan dakwah Rasulullah Saw untuk Syi’ar agama Islam di Madinah. Ajakan untuk meng -Esa -kan Tuhan menurut Rumaisha lebih logis daripada menyembah patung berhala yang kaku tak bisa bergerak itu.

Rumaisha adalah seorang keturunan bangsawan kabilah Anshar suku Khazraj. Ketika Rasulullah Saw datang dan menyerukan agama Islam apa itu benar?

Ia dan beserta pengikutnya menerima sama dengan senang hati kedatangan agama Islam. Sebab Rumaisha atau Ummu Hanan kemudian menyatakan keislamannya.

Namun disinilah ujiannya. Di mana Rumaisha berjuang demi agama Islam walau harus merasa kehilangan amat mendalam karena sang suami tidak berkenan.

Perdebatan Hebat Rumaisha dengan Malik

Demi agama Islam, apapun dilalui meski harus bertengkar hebat dengan suaminya Malik bin Nadhir. Gangguan dan rintangan ia hadapi dengan tegar menghadapi suaminya yang keras kepala. Semua itu menggambarkan kisah ketegaran Rumaisha.

Air muka Malik bin Nadhir naik pitam melihat kelakuan istrinya yang tak mau juga menuruti keinginan suami untuk kembali ke kepercayaan lama. Walhasil meningkatkan pita suaranya Malik bin Nadhir dan berujar setengah berteriak.

Tanpa instrospeksi diri Malik bin Nadhir mengumpat sejadinya. “Engkau kini telah terperangkap dalam kemurtadan!” seru Malik.

0 Komentar