Tarik Minat Berkunjung, Museum Batik Display Motif Kain Batik Kelengan Khas Peranakan Thionghoa, Yuk Kunjungi,,,,

Tarik Minat Berkunjung, Museum Batik Display Motif Kain Batik Kelengan Khas Peranakan Thionghoa, Yuk Kunjungi,,,,
Museum Batik Pekalongan mendisplay kain batik kelengan khas peranakan Thionghoa. (Radarpekalongan.id/dinkominfo)
0 Komentar

RADAR PEKALONGAN.ID – Untuk menarik minat pelajar, pecinta batik dan masyarakat umum berkunjung di Museum Batik Pekalongan. Kini, pengelola museum telah mengganti koleksinya dengan mendisplay kain batik kelengan khas peranakan Thionghoa.

Penggantian display itu sekaligus wujud penghormatan momentum perayaan Hari Raya Imlek Tahun 2023. Dulunya, batik kelengan tersebut digunakan orang-orang Thionghoa yang bermukim di Kota Pekalongan.

Batik kelengan ini mempunyai proses pewarnaan yang sederhana, yakni dengan menutup permukaan kain dengan malam menurut motif yang diinginkan, kemudian dicelup pewarna batik. Batik kelengan hanya memiliki dua warna dengan warna putih sebagai warna dasar kain dan warna biru yang banyak dibuat di Kota Pekalongan pada saat itu.

Baca Juga:Siswa SMAN 3 Pekalongan Tampil Heboh Saat Pagelaran Seni BudayaJumat ini, Yuk Liburan di Transmart Pekalongan, Ada Event Kids Cooking Class dan Kids Talent Show

Kepala UPTD Museum Batik Pekalongan, Akhmad Asror mengungkapkan, batik khas Kota Pekalongan sejak dahulu mendapat banyak pengaruh motif maupun warna dari luar, salah satunya pengaruh budaya etnis peranakan Thionghoa. Dijelaskan Asror bahwa, batik kelengan ini biasa digunakan oleh masyarakat peranakan Thionghoa ketika sedang berkabung atau berduka.

“Kain batik kelengan yang di display ini dahulunya merupakan karya dari masyarakat Kota Pekalongan yang dulunya bertempat tinggal disekitar Jalan Belimbing, Sampangan, Kota Pekalongan,” ucap Asror, Jumat (27/1/2023).

Belum lama ini, sambung Asror, cucu dari sang pengrajin kain batik kelengan ini sempat berkunjung ke Museum Batik dan melihat secara langsung karya batik dari neneknya tersebut. Dimana, dahulunya sang nenek yang merupakan masyarakat Thionghoa, dan dulunya bekerja memproduksi batik di Kota Pekalongan.

“Yang mendonasikan kain batik kelengan ini awalnya memang bukan dari keluarga dari pengrajinnya langsung. Koleksi kain batik kelengan ini sudah ke dibeli dan dibawa ke luar negeri. Kemudian, pada Tahun 2012 lalu, ada seorang warga Belanda bernama Sandra Niesen yang kebetulan ada tujuan datang ke Kota Pekalongan pada saat itu sekaligus menyumbangkan salah satu batik yang berasal dari Kota Pekalongan ini,” jelasnya.

Asror menyebut bila batik kelengan juga sebagai tanda bahwa Batik Pekalongan itu multikultural. Dimana, banyak sekali kebudayaan yang mempengaruhi terciptanya kain batik yang indah khas Kota Pekalongan, salah satunya dari pengaruh budaya etnis peranakan Thionghoa yang ada di Kota Pekalongan. Pada saat itu yang tentu jumlahnya tidak sedikit dan memproduksi batik dari dulu hingga saat ini.

0 Komentar