RADARPEKALONGAN.ID – Secara kehormatan, Gus Dur sudah terhormat karena cucu pendiri NU dan putra Menteri Agama. Demikian disampaikan Kiai Marzuki, Pengasuh Pondok Pesantren Sabilulrosyad Gasek, Malang itu.“Kalau cari ketenaran Gus Dur sudah tenar, kalau cari kekayaan Gus Dur sudah kaya, kalau cari pengakuan kepandaian, pandainya Gus Dur sudah melebihi profesor,” ucapnya dalam acara yang ditempatkan di aula KH Bisri Syansuri kantor PWNU Jatim, kemarin. Menurut Kiai Marzuki, Gus Dur justru hanya mengedepankan mencari kemaslahatan umat. Bahkan Gus Dur tidak perduli lagi dicaci atau dihina oleh orang lain demi kemaslahatan umat. “Gus Dur membela non-muslim mati-matian. Ketika non-muslim di Madura dilindungi, otomatis Muslim yang minoritas di Papua akan dilindungi. Ketika Indonesia punya komitmen melindungi non-muslim, Muslim di Australia akan mendapatkan perlindungan,” tuturnya.Kiai Marzuki menjelaskan prinsip hidup Gus Dur yang berbeda dengan fikih pada umumnya. Pertama, bangsa dan negara, yang kedua umat, sedangkan ketiga adalah keluarga.“Pada umumnya, fikih kan keluarga dulu, tetapi Gus Dur tidak. Kata Gus Dur, kalau mengurusi keluarga saja ketika wafat yang mendoakan hanya anak-anak dan keluarga saja. Tetapi kalau mengurusi bangsa, negara dan umat, ketika wafat akan banyak yang mendoakan,” ungkapnya.Dalam kesempatan itu, Kiai Marzuki mengingatkan jika terjadi polarilasi di tubuh NU menyongsong abad ke-2 jamiyah. Seperti NU ala pondok, ala kampus, ala Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).“Umat menjadi bingung, maka kembalikan kepada AD/ART, yang intinya Ahlussunnah wal Jamaah madzhab fikih empat, akidahnya Asy’ari dan Maturidi, tasawufnya Imam Ghozali,” pungkasnya. (dur/nu.online)
Pengasuh Pondok Pesantren Sabilulrosyad , Kiai Marzuki Sebut Gus Dur Utamakan Kemaslahatan Umat
