“Kami ingin kesempatan ini dimaksimalkan untuk membuka pasar ke Jepang,” ujarnya.
Namun, Tika juga mengingatkan para petani untuk menjaga kualitas dan konsistensi produk apabila kerja sama ekspor benar-benar terwujud.
“Kalau nanti ini jadi, ya petani harus menjaga kualitas. Jangan sampai kekurangan bahan ekspor terus ditambah kopi dari wilayah lain. Jepang itu ketat. Kalau tidak sesuai kesepakatan awal, bisa langsung dicoret,” tegasnya.
Baca Juga:Ratusan Hektar Sawah di Kasepuhan Terendam Rob, Rizal Bawazier Desak Pembangunan Tanggul Pantura DipercepatKendal Fun Run 2025 Lampaui Target, Peserta Membludak hingga Pemkab Ajak Berlari dengan Kostum Unik
Ia menambahkan bahwa rencana kerja sama tidak akan berbasis kuota pengiriman, melainkan disesuaikan dengan kemampuan produksi petani.
“Tidak bicara kuantitas, tetapi bagaimana mempertahankan kualitas yang ada. Sistemnya bukan kuota, tapi kemampuan petani,” jelasnya.
Ketua Kelompok Tani Desa Tamanrejo, Kusnan, menyambut gembira peluang ekspor kopi tersebut. Selama ini kopi Kendal hanya dipasarkan antar daerah dan belum pernah menembus pasar internasional. Ia menyampaikan bahwa desa mereka mampu memproduksi lebih dari 20 ton kopi kering per tahun, terutama jenis robusta.
“Kalau robusta, kami bisa menghasilkan secara kontinyu. Tapi untuk exelsa belum, karena kebanyakan petani di sini menanam robusta dan arabica,” ungkapnya.
Saat ini, harga kopi robusta berada di kisaran Rp65 ribu per kilogram, sedangkan exelsa sekitar Rp71 ribu. Kusnan berharap kerja sama ekspor ke Jepang dapat segera terwujud agar potensi kopi Kendal semakin dikenal luas.
“Harapannya bisa segera terwujud, sekaligus meningkatkan kualitas serta potensi Kabupaten Kendal,” tutupnya. (fur)
