Catatan untuk Arif 'Marx' Budiman: Bung Karno Itu Pemikir Dialektis Bukan Harmonis

Mengkitik pemikiran Bung Karno
Muhamad Lubis Ardani mengkritik tulisan Arif \'Marx\' Budiman tentang tulisan Bung Karno.
0 Komentar

Oleh Muhamad Lubis Ardani

RADARPEKALONGAN.ID – Artikel berjudul “Semangat Belajar Bung Karno Ditinjau dari Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme” yang ditulis Arif ‘Marx’ Budiman mempresentasikan Bung Karno sebagai figur pemersatu yang berhasil merangkul tiga arus besar pemikiran secara harmonis.

Namun, di balik narasi tersebut, tersimpan sebuah problem cara berpikir: pemikiran Bung Karno dipahami secara terlalu jinak, seolah lahir dari keharmonisan, bukan dari konflik ideologis yang keras. Cara pandang inilah yang perlu dikritisi.

1. Bung Karno Bukan Pemikir Harmoni, Melainkan Pemikir Dialektika

Penulis memposisikan Bung Karno sebagai tokoh yang mampu “menyatukan” nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme secara sekaligus. Cara berpikir ini mengabaikan karakter utama pemikiran Bung Karno yang bersifat dialektis.

Baca Juga:Yayasan Kehati dan Bank BTN Tanam 2.500 Pohon Mangrove di Pesisir Utara Kabupaten PekalonganCatatan untuk Arif 'Marx' Budiman, Renaisans Mazhab Pemikiran Baru di Pekalongan, Membangun Budaya Kritis

Bung Karno tidak pernah meniadakan konflik ideologi, melainkan menggunakannya sebagai energi perjuangan.

Dalam pidato dan tulisannya, Bung Karno kerap menegaskan bahwa revolusi lahir dari pertentangan, bukan dari kompromi nyaman.

Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Tan Malaka, yang menyebut bahwa perubahan sosial hanya mungkin terjadi melalui pertarungan ide dan kesadaran kelas, bukan sekadar persatuan simbolik.

Dengan memahami Bung Karno hanya sebagai simbol harmoni, penulis artikel justru mereduksi watak radikal pemikirannya. Dalam hal ini penulis telah gagal memahami pemikiran Bung Karno.

2. Semangat Belajar yang Direduksi Menjadi Etika Pribadi

Penulis Arif ‘Marx’ Budiman menempatkan semangat belajar Bung Karno sebagai teladan moral individual: rajin membaca, berdiskusi, dan terbuka terhadap berbagai pemikiran.

Cara berpikir ini problematis karena menggeser makna belajar dari praktik politik menjadi sekadar kebajikan personal.

Bung Karno belajar bukan untuk menjadi individu cerdas semata, tetapi untuk membangun kesadaran kolektif dan melawan struktur penindasan.

Baca Juga:Semangat Belajar Bung Karno Ditinjau dari Artikel Nasionalisme Islamisme dan MarxismeDKP Kota Pekalongan Menjadi OPD Terinovatif Disusul RSUD Bendan dan Bapperida

Hal ini sejalan dengan gagasan Antonio Gramsci tentang intelektual organik, yakni intelektual yang belajar dan berpikir untuk kepentingan pembebasan sosial, bukan untuk kepuasan intelektual pribadi.

Ketika semangat belajar dipahami secara individualistik, maka pemikiran Bung Karno kehilangan dimensi perjuangannya.

3. Nasionalisme Dijadikan Titik Aman

Dalam pemahaman Arif, nasionalisme tampak ditempatkan sebagai titik temu yang aman antara Islamisme dan Marxisme.

0 Komentar