RADARPEKALONGAN.ID, KOTA PEKALONGAN – Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kota Pekalongan memberikan perhatian serius terhadap urgensi peran orang tua dalam memberikan pendidikan seks kepada anak dan remaja. Langkah ini diambil untuk mendobrak stigma di masyarakat yang masih menganggap pendidikan seks sebagai hal tabu untuk dibicarakan di lingkup keluarga.
Kurangnya pemahaman mengenai tubuh dan batasan diri dinilai menjadi celah terjadinya kekerasan, terutama bagi anak-anak inklusi atau berkebutuhan khusus. Tanpa bekal informasi yang benar, anak-anak berada dalam posisi rentan terhadap salah informasi dan perlakuan tidak aman dari lingkungan sekitar.
Kepala SKB Kota Pekalongan, Bonari, mengungkapkan bahwa banyak orang tua yang sebenarnya ingin memberikan pemahaman, namun terbentur oleh rasa canggung dan minimnya kosakata yang tepat.
Baca Juga:MTs Salafiyah Wiradesa Sabet Juara 1 Lomba Senam Pramuka Kwarran, Tampil Energik dan Penuh KreativitasPersik Kendal Puncaki Klasemen Liga 4 Jateng Usai Cukur Persibara 3-0, Laskar Bahurekso Sapu Bersih!
“Banyak orang tua sebenarnya peduli, namun belum memiliki bekal bahasa, pemahaman, dan keberanian untuk membicarakan pendidikan seks secara tepat. Pendidikan seks sering kali dimaknai sebatas larangan dan rasa takut, bukan sebagai upaya perlindungan,” ujar Bonari saat ditemui awak media, Jumat (9/1/2026).
Bukan Hal Vulgar, Melainkan Perlindungan Diri
Bonari menegaskan bahwa pendidikan seks yang tepat tidaklah identik dengan hal vulgar. Materi yang diberikan meliputi pengenalan anggota tubuh, pemahaman tentang batasan sentuhan (bagian tubuh yang tidak boleh disentuh orang lain), hingga cara menghargai diri sendiri.
Tujuan utamanya adalah agar anak mampu mengenali risiko sejak dini dan merasa berdaya untuk menjaga kedaulatan tubuhnya sendiri. Hal ini menjadi sangat krusial bagi anak berkebutuhan khusus yang seringkali memiliki keterbatasan komunikasi dan kemampuan mengenali situasi berisiko.
“Pendidikan seks ini penting agar anak mampu mengenali risiko dan merasa berhak untuk menjaga tubuhnya,” tegas Bonari.
Tantangan Orang Tua Anak Inklusi
Kebutuhan akan pendampingan yang konsisten juga dirasakan oleh para orang tua siswa Paket A Inklusi di SKB. Salah satu wali murid, Sasy Madona, mengakui bahwa mengomunikasikan hal ini kepada anak inklusi membutuhkan kesabaran dan metode pengulangan yang pas.
“Sebagai orang tua, kami sering bingung harus mulai dari mana dan menggunakan bahasa seperti apa agar anak bisa memahami. Pendidikan seks bukan tentang hal yang tabu, tetapi tentang bagaimana melindungi anak agar mengenal tubuhnya dan merasa aman,” ungkap Sasy.
