Tanggapan atas Catatan Arga Rasya Putra & Lubis Ardani, Dinamika Intelektual Mahasiswa Mulai Tumbuh

Tugas mahasiswa adalah memperkuat pola pikir
Tugas mahasiswa sejatinya adalah membangun pola pikir kritis yang bertanggung jawab. Dibekali literatur yang cukup dan bukan asal ngomong.
0 Komentar

Oleh Arif ‘Marx’ Budiman

RADARPEKALONGAN.ID – Kebahagiaan tidak melulu soal uang, jabatan atau pujian. Kritik kadangkala juga sebuah kebahagiaan ketika kita menerimanya dengan hati yang lapang.

Tentunya jika kritik itu didasarkan pada rasionalitas dan rasa kasih sayang. Tetapi na’as ungkapan Gandhi ada benarnya “Manusia jauh lebih siap menerima keburukan, dibanding kebaikan”.

Ini saya reduksi bahwa manusia kadangkala jauh lebih siap menerima pujian yang memabukkannya, dibanding kritik dan nasehat yang walaupun terasa pahit tetapi mengandung kebaikan.

Baca Juga:Catatan untuk Arif 'Marx' Budiman: Bung Karno Itu Pemikir Dialektis Bukan HarmonisYayasan Kehati dan Bank BTN Tanam 2.500 Pohon Mangrove di Pesisir Utara Kabupaten Pekalongan

Saya senang melihat respon dari artikel saya yang ternyata mengundang beberapa catatan, tentunya dari saudara Arga Rasya Putra & saudara Lubis Ardani.

Bukan maksud saya untuk menampik buah pikiran mereka, saya akui keduanya sedikit banyak menanam benih perspektif yang jauh lebih progresif daripada tulisan saya.

Pertama niscayalah, tulisan saudara Arga mengandung suatu kebenaran, bahwa keragaman tempurung kepala manusia tak bisa disamaratakan, dan keragaman itulah bunga-bunga kehidupan.

Dalam hidup ini terdapat seseorang yang memiliki minat dalam dunia bisnis. Ada pula yang memiliki minat berorganisasi.

Tiap orang memiliki passion dan minat berbeda-beda yang tak dapat kita paksakan gaya belajar dan passion mereka harus seutuhnya mirip dengan gaya belajar Bung Karno. Inilah kehebatan saudara Arga.

Banyak faktor yang mempengaruhi seseorang dalam belajar, dan amat salah jika menyimpulkan bahwa belajar hanyalah melulu membaca.

Faktor lingkungan salah satu daripada faktor yang mempengaruhi gaya belajar dan passion seseorang.

Baca Juga:Catatan untuk Arif 'Marx' Budiman, Renaisans Mazhab Pemikiran Baru di Pekalongan, Membangun Budaya KritisSemangat Belajar Bung Karno Ditinjau dari Artikel Nasionalisme Islamisme dan Marxisme

Seandainya Bung Karno tak tinggal dalam indekos Tjokroaminoto, bukan tidak mungkin ia kelak menjadi seorang pebisnis.

Seandainya Bung Karno hidup bersama kita dalam era modern ini, bukan tidak mungkin ia kelak menjadi seorang player Mobile Legend.

Tentu, Bung Karno yang seorang pebisnis dan gamer itu tak dapat kita katakan bodoh dan tak mau belajar hanya karena ia enggan membaca sebuah buku.

Siapa tahu konsep belajar dalam alam pikiran Bung Karno jauh dari sekadar membaca sebuah buku?

Sekali lagi, saya katakan bahwa buah pikiran saudara Arga jauh lebih progresif. Tetapi perlulah saya katakan bahwa artikel yang saya tulis tidak menganjurkan keseragaman passion, keseragaman buku bacaan, keseragaman gaya belajar.

0 Komentar