Saya tidak menuntut seorang mahasiswa harus sama buku bacaanya, saya tidak menuntut seorang mahasiswa harus terus membaca hingga lupa bekerja.
Saya pula tidak menuntut seorang pebisnis, kuli, buruh hingga tukang becak untuk membaca sebuah buku dan meninggalkan passion mereka sebagai seorang pekerja demi menjadi seorang kutu buku seperti Bung Karno.
Artikel itu saya maksudkan untuk memeriksa kondisi tempurung kepala kita mahasiswa hari ini, bukan pebisnis, pengusaha, kuli, buruh atau tukang becak.
Baca Juga:Catatan untuk Arif 'Marx' Budiman: Bung Karno Itu Pemikir Dialektis Bukan HarmonisYayasan Kehati dan Bank BTN Tanam 2.500 Pohon Mangrove di Pesisir Utara Kabupaten Pekalongan
Walaupun pekerja dalam hemat saya juga memerlukan ini, tetapi artikel itu saya maksudkan untuk kita mahasiswa.
Sejauh mana kesulitan akses pendidikan pada era kolonial dengan bom, molotov dan meriamnya mampu kita teladani di era yang serba mudah ini?
Saya tidak bisa membayangkan seorang mahasiswa prodi komunikasi tidak tahu pengetahuan dasar misalnya definisi komunikasi, dan sepuluh tahun kemudian mahasiswa tersebut menjadi Menteri Komdigi.
Pertanyaanya, bagaimana jika mahasiswa tersebut tak mau menjadi Menteri melainkan ingin menjadi seorang pebisnis?
Ia kuliah karena salah jurusan, dipaksa orang tua, atau hanya ingin ijazahnya saja?
Tentulah kondisi demikian tak dapat kita ramalkan, yang dapat kita lakukan ialah keinginan untuk belajar.
Mau jadi apapun mahasiswa komunikasi tersebut, setidaknya jika ia mau belajar maka ia mengurangi potensi langgengnya praktik demeritokrasi yang bersemayam dalam negeri ini.
Baca Juga:Catatan untuk Arif 'Marx' Budiman, Renaisans Mazhab Pemikiran Baru di Pekalongan, Membangun Budaya KritisSemangat Belajar Bung Karno Ditinjau dari Artikel Nasionalisme Islamisme dan Marxisme
Dalam praktiknya menjelma dalam bentuk koncoisme, klientelisme dan asal bapak senang dan berujung pada efek langgengnya kemiskinan karena minimnya kesadaran kehidupan berbangsa dan bernegara.
Atas dasar demikian, perlulah meneladani Bung Karno dan tokoh-tokoh hebat lainnya, tetapi perlulah diingat meneladani bukan berarti menyeragamkan passion seseorang.
Ambil yang baik dan yang mampu, buang yang buruk dan tidak mampu.
Selanjutnya, tak banyak yang dapat saya tuliskan untuk saudara Lubis Ardan yang dalam artikelnya menyimpulkan bahwa semangat belajar Bung Karno hanya dijadikan semangat belajar individual dan menutup kemungkinan untuk dijadikan teladan kolektif.
Untuk persoalan ini saya kira sudah terjawab dalam balasan saya untuk Saudara Arga, sehingga saudara Ardan berkenanlah untuk membacanya.
