RADARPEKALONGAN.ID, KOTA PEKALONGAN – Persoalan sampah di Kota Pekalongan memasuki babak baru yang cukup krusial. Pasca-ditutupnya Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Degayu, tumpukan sampah mulai terlihat di berbagai ruas jalan akibat terganggunya sistem distribusi pembuangan akhir.
Rendahnya kesadaran masyarakat dalam mengelola limbah rumah tangga menjadi tantangan besar yang harus segera diatasi. Merespons situasi darurat lingkungan ini, Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Jaesta Wanasia Universitas Pekalongan (Unikal) melakukan langkah jemput bola dengan memberikan edukasi langsung kepada masyarakat mengenai pentingnya tata kelola sampah dari rumah.
Ketua Umum Mapala Jaesta Wanasia Unikal, Riandini Astrit Ananda, menegaskan bahwa penutupan TPA Degayu harus menjadi momentum perubahan perilaku masyarakat secara total. Menurutnya, mengandalkan pembuangan akhir tanpa adanya pemilahan di tingkat hulu sudah tidak lagi relevan dengan kondisi saat ini.
Baca Juga:Bukan Cuma Padamkan Api! Layanan Non-Fire Rescue di Pekalongan Melejit, Evakuasi Tawon Vespa Paling DominanHujan Angin di Kendal Tumbangkan Pohon Jati dan Asem Londo, Akses Jalan dan Listrik Sempat Putus Total
“Sampah tidak hanya terlihat menumpuk di jalanan, tapi akarnya adalah perilaku masyarakat yang belum terbiasa mengelola sampah dengan benar. Apalagi setelah TPA Degayu ditutup, manajemen sampah harus berubah total,” ujar Riandini dalam keterangannya, Kamis (15/1/2026).
Tiga Pilar Pengelolaan Sampah Mandiri
Dalam workshop yang diselenggarakan, Mapala Jaesta Wanasia menitikberatkan edukasi pada tiga pilar utama sebagai solusi jangka panjang krisis sampah di Kota Batik. Ketiga pilar tersebut meliputi:
- Pemilahan Ketat: Memisahkan antara sampah organik yang bisa dikomposkan dan sampah anorganik.
- Reduksi Penggunaan: Mengurangi ketergantungan pada plastik sekali pakai dalam aktivitas sehari-hari.
- Daur Ulang (Recycle): Memberikan nilai guna baru pada barang bekas agar tidak berakhir begitu saja di tempat sampah.
Riandini menjelaskan bahwa jika setiap rumah tangga mampu memilah sampahnya sendiri, maka beban yang dibawa ke tempat penampungan sementara akan berkurang drastis. Hal ini sekaligus mencegah terjadinya penumpukan sampah liar di pinggir jalan yang mengganggu estetika dan kesehatan kota.
Mendorong Generasi Peduli Lingkungan
Aksi mahasiswa ini merupakan bagian dari visi besar Mapala Jaesta Wanasia Unikal dalam menjaga kelestarian ekosistem lokal. Mereka berharap kegiatan ini tidak berhenti pada seremonial belaka, melainkan mampu menggerakkan kesadaran kolektif warga.
