Catatan untuk Saudara Ahnaf tentang MDH ala Bung Karno

Catatan untuk saudara Ahnaf
Mahasiswa UIN Gus Dur Arif Budiman memberikan catatan kepada temannya Ahnaf tentang ideologi Marxisme.
0 Komentar

Oleh Arif Budiman

RADARPEKALONGAN.ID – Ini adalah catatan untuk saudara Ahnaf yang menulis tentang ‘Materialisme Dialiketis-Historis (MDH) ala Bung Karno dan Krisis Cara Berpikir Mahasiswa Hari Ini’.

Tulisannya amat rapih sehingga cukuplah beberapa kali saja saya baca dan pertimbangkan. Di sisi lain juga ada kelemahan-kelemahan yang juga nampak dalam tulisannya.

Atas dasar itu saya merasa tergugah untuk menanggapi. Tentunya dengan maksud yang baik, yakni membangkitkan kembali dialektika dari liang kuburnya.

Baca Juga:Mengapa Mendengarkan Musik Mempengaruhi Suasana Hati Manusia?Materialisme Dialektika Historis ala Bung Karno dan Krisis Cara Berpikir Mahasiswa Hari Ini

Meski saya bukan seorang Marxis, tetapi perlu saya akui sedikit banyak buah pikiran Marx bercokol dalam alam pikiran saya, sedikit banyak pula buah pikiran Marx yang saya tolak.

Karena saya bukan seorang Marxis, sehingga saya persilakan dengan suka rela untuk menganggap saya seorang yang murtad –keluar dari doktrin ajaran Marx.

Ketika saudara Ahnaf menulis bahwa “Bung Karno tidak menjadikan MDH sebagai doktrin beku” saya membenarkan itu.

Dalam sejarah dapat kita lihat lahirnya Marhaenisme tak bisa dilepaskan dari pergulatan pikiran Bung Karno dengan Marx, Bung Karno yang seorang pembaca Marx, tak mau puas dengan konsep MDH yang anti multitafsir.

Ia berani menafsirkan MDH Marx menjadi versinya sendiri, sehingga lahirlah Marhaenisme.

Bahkan Bonnie Setiawan (2016) dalam Sukarno, Marxisme dan Bahaya Pemfosilan, dalam esainya menyebut bahwa Bung Karno adalah seorang revolusioner yang inklusif, memetik nilai progresif dari sebuah ajaran, meramunya menjadi jalan politik yang ditempuhnya hingga akhir hayatnya.

Maka dalam konfrensi Partindo 1933, Bung Karno menyebut bahwa Marhaenisme ialah azas yang menghendaki susunan masyarakat. Di dalam susunan itu bertujuan menyelamatkan Marhaen.

Siapa itu Marhaen?

Baca Juga:3 Alasan Orang Rimba di Jambi Lebih Maju Ketimbang Orang Moderen pada Tahun 2026Wali Murid Kelas XII SMA Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan Adakan Silaturrahim

Dalam Kursus Pancasila di tahun 1958, Bung Karno menjawab bahwa Marhaen adalah nama seorang petani Bandung, ia memiliki modal (Sawah) dan alat produksi (Cangkul, Kerbau Pembajak dll) tetapi ia sengsara dan melarat.

Berbeda dengan konsep proletar Marx yang bercirikan: tidak memiliki alat produksi, menjual tenaganya kepada kapitalis, dari menjual tenaganya itulah proletar menyambung nafas.

Pada titik inilah tulisan saudara Ahnaf relevan, yakni Bung Karno tidak menjadikan MDH sebagai doktrin beku.

0 Komentar