Catatan untuk Saudara Ahnaf tentang MDH ala Bung Karno

Catatan untuk saudara Ahnaf
Mahasiswa UIN Gus Dur Arif Budiman memberikan catatan kepada temannya Ahnaf tentang ideologi Marxisme.
0 Komentar

Selanjutnya dalam tulisanya saudara Ahnaf menulis “Relevansi MDH berada pada titik ketika kita melihat realitas sebagai proses yang bergerak, penuh kontradiksi dan ditentukan oleh kondisi material masyarakat”.

Saya kira apa yang ditulis saudara Ahnaf terlalu tinggi, marilah berpijak pada bumi kita ini.

Maka untuk menjawab relevansi MDH ala Indonesia (Marhaenisme) saya mengutip data BPS per-Agustus 2025, yang menunjukkan bahwa penduduk yang bekerja dalam sektor informal sebanyak 57% sedang dalam sektor formal sebanyak 42%.

Baca Juga:Mengapa Mendengarkan Musik Mempengaruhi Suasana Hati Manusia?Materialisme Dialektika Historis ala Bung Karno dan Krisis Cara Berpikir Mahasiswa Hari Ini

Maknanya ialah bahwa negara kita sebenarnya surplus rakyat yang menjadi produsen kecil, seperti pedagang asongan, pedagang kaki lima, petani pemilik sawah.

Merekalah pemilik modal dan alat produksi yang tetap sengsara dan melarat, maka pada titik ini Marhaenisme/MDH relevan.

Saudara Ahnaf juga menulis “kemerdekaan sejati adalah membongkar struktur ketidakadilan”.

Saya tergugah untuk bertanya, Bagaimana wujud ketidakadilan dalam versi Marxis? Bagaimana cara mewujudkan keadilan (kemerdekaan sejati) versi Marxis?

Saya kira pembaca yang budiman tentunya juga turut tergugah menayakan hal yang sama. Namun tulisan saudara Ahnaf tak menyentuh konsep tentang itu.

Perlu saya jawab, tentunya bukan atas dasar siapa yang lebih Marxis –toh diawal saya mengakui bahwa saya bukan seorang Marxis–, tetapi ini murni catatan/kritik saya atas kekurangan tulisan saudara Ahnaf.

Wujud ketidakadilan dalam konsep Marxis kata Njoto 1962 dalam Marxisme Ilmu dan Amalnya ialah, situasi dimana terjadinya penghisapan atas manusia oleh manusia (Exploitation de I’homme par I’homme), kata Magnis Suseno dalam Pemikiran Karl Marx dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme.

Penghisapan ini muncul karena faktor hak milik pribadi, yang dari hak milik pribadi itu memungkinkan kelas atas (Borjuis) hidup dari penghisapan kelas bawah (Proletar).

Maka penghisapan dan ketidakadilan itu selanjutnya tercermin dalam keterasingan (alienasi).

Baca Juga:3 Alasan Orang Rimba di Jambi Lebih Maju Ketimbang Orang Moderen pada Tahun 2026Wali Murid Kelas XII SMA Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan Adakan Silaturrahim

Lantas bagaimana upaya mewujudkan keadilan (kemerdekaan sejati) itu dalam konsep Marxis?

Njoto kembali meneruskan “Melalui revolusi sosialis dan mendirikan masyarakat yang tidak berkelas, keadilan itu akan tercapai.”

Selanjutnya yang tak boleh dilupakan ialah tulisan Saudara Arga pada pekan kemarin, yang menyebutkan bahwa “kerangka tempurung tiap orang berbeda-beda”.

0 Komentar