Lalu datang para sufi. Al-Sulami dan al-Qushayri membaca Mikraj sebagai pengalaman batin, perjalanan ruh. Al-Thalabi menyajikannya dengan gaya yang indah dan mudah diterima.
Sementara al-Bayhaqi kembali mengingatkan agar berhati-hati dengan kisah yang terlalu menyerupai dongeng. Mikraj selalu berada di antara iman dan imajinasi.
Di tengah perdebatan itu, muncul Ibn Sina. Ia tidak menolak Mikraj, tetapi juga tidak menerimanya secara harfiah. Ia memilih jalan lain.
Baca Juga:Catatan untuk Saudara Ahnaf tentang MDH ala Bung KarnoMengapa Mendengarkan Musik Mempengaruhi Suasana Hati Manusia?
Dalam Miʿrajnamah yang ditulis dalam bahasa Persia, Ibn Sina berbicara tentang akal dan jiwa. Baginya, tubuh terlalu berat untuk menembus langit. Yang mampu melakukan perjalanan itu adalah akal.
Namun ia tidak menyingkirkan kisah. Ia justru memeluk alegori.
Menurut Ibn Sinā, tidak semua manusia memiliki kemampuan intelektual yang sama. Kebanyakan hidup di wilayah imajinasi.
Karena itu, kebenaran yang abstrak perlu diterjemahkan ke dalam bentuk cerita, dari konsep menjadi gambaran. Alegori, baginya, bukanlah pengaburan, tetapi perlindungan makna.
Maka Mikraj dibaca ulang. Tidur dan jaga menjadi simbol batas jiwa. Jibril dimaknai sebagai Ruḥ al-Qudus. Buraq sebagai Akal Aktif.
Tiga cawan sebagai struktur jiwa. Tujuh langit sebagai tingkatan intelektual. Pertemuan dengan Tuhan sebagai puncak pencapaian akal menuju Sang Wajib al-Wujud.
Di titik ini, Mikraj bukan lagi soal jarak, melainkan soal ketinggian pemahaman.
Anehnya, tafsir filosofis ini tidak mematikan kisah populer. Justru sebaliknya. Versi dramatik Abu al-Ḥasan al-Bakri lahir dan menyebar luas, diterjemahkan ke Eropa, dan dikenal sebagai Liber Scale.
Baca Juga:Materialisme Dialektika Historis ala Bung Karno dan Krisis Cara Berpikir Mahasiswa Hari Ini3 Alasan Orang Rimba di Jambi Lebih Maju Ketimbang Orang Moderen pada Tahun 2026
Seakan manusia memang membutuhkan dua hal sekaligus: cerita untuk imajinasi dan tafsir untuk akal.
Karena itu, Mikraj terus hidup. Ia tidak pernah selesai dan tidak pernah tunggal. Ia menjadi cermin, tempat setiap zaman melihat dirinya sendiri.
Mungkin pertanyaannya bukan lagi: apakah Mikraj bersifat fisik atau spiritual? Melainkan: mengapa kita terus kembali pada kisah ini?
Barangkali karena sejak awal, manusia selalu ingin melakukan satu perjalanan, entah dengan tubuh, imajinasi, atau akal; menuju sesuatu yang lebih tinggi dari dirinya sendiri. (*)
*) Penulis adalah mahasiswa UIN Gus Dur Pekalongan.
