Namun, untuk harga emas di Indonesia, efeknya tidak selalu negatif karena pelemahan rupiah justru bisa menjaga harga emas lokal tetap tinggi.
- Perlambatan Pembelian Bank Sentral
Saat ini, bank sentral dunia menyumbang sekitar 20–30% permintaan emas global. Jika pembelian ini melambat, tekanan beli berkurang dan membuka peluang koreksi harga emas.
- Minat Investor Beralih ke Saham
Jika pasar saham global kembali mencetak kinerja kuat dan stabil, sebagian dana investor bisa berpindah dari emas ke aset berisiko, memicu tekanan jual.
Baca Juga:Apakah Harga Emas Tidak Ada Tanda-Tanda Akan Turun? Ini Prediksi dan Analisis Lengkapnya!Cara Memantau Harga Emas Paling Akurat Biar Kamu Nggak Salah Waktu Beli dan Jual! Simak Penjelasannya!
Kenapa Harga Emas Belum Turun di Awal 2026
Meskipun banyak yang menunggu harga emas akan turun, faktanya kondisi saat ini belum mendukung penurunan signifikan.
Beberapa alasannya:
- Ketegangan geopolitik global masih tinggi
- Permintaan emas dari bank sentral tetap agresif
- Ekspektasi suku bunga riil masih rendah
- Rupiah cenderung melemah, menopang harga emas domestik
Kombinasi faktor ini membuat harga emas relatif tahan terhadap tekanan turun dalam jangka pendek.
Strategi Menghadapi Potensi Penurunan Harga Emas
Daripada menebak waktu pasti harga emas akan turun, kamu bisa fokus pada strategi yang lebih realistis:
- Pantau kebijakan The Fed dan data inflasi AS
- Perhatikan pergerakan dolar AS dan nilai tukar rupiah
- Gunakan strategi beli bertahap saat terjadi koreksi
- Hindari all-in di harga puncak
Dengan pendekatan ini, kamu tetap bisa memanfaatkan emas sebagai aset lindung nilai tanpa terjebak spekulasi jangka pendek.
Harga emas akan turun masih bersifat kemungkinan, bukan kepastian. Berdasarkan proyeksi analis global, peluang koreksi paling realistis muncul pada kuartal II hingga III 2026 jika ekonomi global menguat dan suku bunga bertahan tinggi.
Namun selama permintaan safe haven dan pembelian bank sentral masih kuat, penurunan tajam harga emas belum terlihat dalam waktu dekat.
