Muara Sungai Sambong Dangkal, Kapal Nelayan Batang Lumpuh hingga Harus Bongkar Ikan di Pelabuhan

Muara Sungai Sambong Dangkal, Kapal Nelayan Batang Lumpuh hingga Harus Bongkar Ikan di Pelabuhan
M. DHIA THUFAIL RAPAT SEDIMENTASI - Ketua DPC HNSI Batang Teguh Tarmujo saat hadir dalam rapat pembahasan sedimentasi muara Sungai Sambong yang dipimpin oleh Pj Sekda Batang Sri Purwaningsih.
0 Komentar

RADARPEKALONGAN.ID, BATANG – Aktivitas sektor perikanan di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, kini berada dalam kondisi kritis. Jalur utama kapal menuju Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Klidang Lor nyaris lumpuh total akibat pendangkalan parah di muara Sungai Sambong.

Kondisi ini memaksa para nelayan mengambil langkah darurat dengan menyandarkan kapal besar mereka di Pelabuhan Umum Batang, bukan di TPI sebagaimana mestinya. Dampaknya, distribusi ikan hasil tangkapan menjadi terhambat karena harus diangkut manual menggunakan kendaraan darat menuju TPI, yang menambah beban biaya operasional nelayan.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Batang, Teguh Tarmudjo, mengungkapkan bahwa sedimentasi di muara sungai tersebut sudah mencapai level yang membahayakan keselamatan pelayaran.

Baca Juga:Mobil Operasional PLN Terjun ke Jurang 160 Meter di Lebakbarang Usai Diterjang Longsor, Sopir SelamatPCNU Pekalongan Resmikan Ponpes An-Nahdliyah Kesesi, Dibangun di Atas Tanah Wakaf Seluas 2 Hektar

“Ada kapal yang sudah sebulan melaut, tapi pulang tidak bisa masuk muara. Terpaksa berhenti di depan muara karena alurnya parah. Risiko kapal kandas hingga terbalik di muara terlalu besar jika dipaksakan masuk,” tegas Teguh, Rabu (28/1/2026).

Kritik atas Pengerukan yang Tak Efektif

Upaya normalisasi yang selama ini dilakukan pemerintah dinilai nelayan hanya bersifat sementara dan tidak menyentuh akar permasalahan. Teguh mengkritik minimnya armada alat berat yang dikerahkan untuk menangani volume sedimen yang sangat besar, terutama saat musim hujan kiriman dari hulu meningkat.

“Dikeruk satu-dua hari, lalu hujan deras, sedimentasi kembali. Armada pengerukan cuma satu ekskavator, jelas tidak cukup. Kami butuh solusi permanen agar keselamatan terjaga dan ekonomi tetap jalan,” tambahnya.

Ia memproyeksikan, tanpa strategi pengerukan yang masif, akses muara hanya akan efektif selama 75 hari dalam setahun. Selebihnya, mulut sungai akan kembali tertutup endapan lumpur dan pasir.

Biaya Membengkak, Pendapatan Menurun

Kondisi ini mencekik ekonomi para nelayan lokal. Harjo (40), seorang nelayan asal Klidang Lor, mengeluhkan pembengkakan biaya angkut yang harus ia tanggung. Karena kapal tidak bisa sandar di TPI, ia harus merogoh kocek lebih dalam untuk menyewa armada pengangkut ikan dari pelabuhan ke pelelangan.

“Sekarang muara sudah tidak bisa diandalkan. Mau tidak mau kapal harus sandar di Pelabuhan Batang. Biaya angkut ikan nambah, padahal pendapatan sedang turun. Dulu bisa dapat Rp 2 juta per hari, sekarang paling Rp 1 juta,” ujar Harjo getir.

0 Komentar