RADARPEKALONGAN.ID, KOTA PEKALONGAN – Madrasah Ibtidaiyah (MI) Salafiyah Simbang Kulon 01, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan, memiliki cara yang tidak biasa dalam memperingati momentum Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Alih-alih hanya menggelar tausiyah konvensional, pihak madrasah menghadirkan pagelaran seni Wayang Santri yang dibawakan oleh siswa sendiri di halaman sekolah.
Inovasi bertajuk “Lelakon Isra’ Mi’raj: Saka Langit Tumurun dadi Cahya Urip” ini sengaja dipilih untuk membentengi generasi muda dari gempuran tren smartphone. Melalui media wayang, madrasah mencoba menghidupkan kembali minat anak-anak terhadap kesenian tradisional sekaligus menyisipkan pesan moral yang mendalam.
Puncak acara dimeriahkan oleh debut dalang cilik, M. Danish Zeroun, siswa kelas 6 LA. Ia membawakan lakon berjudul “Ninggal Sholat Geni Mulad”, sebuah cerita satir yang menyentil fenomena anak masa kini yang kerap melalaikan ibadah salat karena asyik bermain game online.
Baca Juga:Lautan Massa! 20 Ribu Warga Padati Jalan Sehat 1 Abad NU Kota Pekalongan, Dua Peserta Raih Hadiah UmrahZulkifli Hasan Janji Dukung Pembangunan Pelabuhan Perikanan Batang demi Target Swasembada Protein
“Ini menjadi pengalaman pertama bagi saya menampilkan wayang kepada teman-teman di sekolah. Semoga teman-teman suka dengan apa yang Danish sampaikan,” ungkap Danish saat ditemui usai pementasan, Senin (2/2/2026).
Sentuhan Budaya Macapat dan Filosofi Al-Fatihah
Suasana peringatan Isra’ Mi’raj semakin kental dengan nuansa budaya Jawa saat M. Luqman Hakim melantunkan Tembang Macapat di sela-sela pementasan. Luqman, yang merupakan peraih juara ketiga lomba macapat tingkat Kecamatan Buaran, membawakan Dandhanggula Penganten Anyar Laras Pelog Pathet Nem.
Tembang tersebut bukan sekadar nyanyian, melainkan karya puitis yang berisi terjemahan mendalam dari Surat Al-Fatihah ayat 1-7. Paduan antara dakwah wayang dan lantunan macapat menciptakan pengalaman religius yang estetik bagi seluruh murid, guru, hingga staf TU yang hadir.
Melawan Dampak Negatif Gadget Lewat Seni
Kepala madrasah dan para pengajar berharap metode dakwah visual melalui wayang ini lebih efektif diserap oleh anak-anak dibandingkan ceramah satu arah. Tema penyesalan anak yang asyik dengan dunia digital hingga ajal menjemput menjadi pengingat keras bagi para siswa tentang prioritas hidup.
Seluruh rangkaian acara, mulai dari pembacaan kitab Barzanji hingga pagelaran seni, ditutup dengan doa bersama. Harapannya, nilai-nilai luhur dari peristiwa Isra’ Mi’raj dapat menjadi cahaya dalam kehidupan para siswa, sekaligus menjaga kelestarian identitas budaya lokal di tengah modernisasi. (mal)
