RADARPEKALONGAN.ID – Nasib emas digital di Indonesia kini menjadi bahan perbincangan hangat setelah mencuatnya kasus emas digital di China yang membuat ribuan investor tidak bisa menarik dana maupun emas fisik.
Skandal ini bukan sekadar kegagalan satu platform, tetapi menjadi alarm keras tentang risiko emas digital yang tidak didukung aset fisik secara nyata.
Di China, platform emas digital bernama JieWoRui dilaporkan membekukan dana nasabah hingga mencapai 19 miliar dolar AS.
Baca Juga:Harga Buyback Emas Antam Hari Ini 2 Februari 2026 Turun Tajam! Waktunya Kamu Jual atau Tahan?Harga Emas Antam Hari Ini 2 Februari 2026 Kembali Naik Diharga 3 Juta Rupiah! Ini Update Terbarunya!
Ribuan investor terjebak karena tidak bisa melakukan penarikan uang maupun mengambil emas fisik yang sudah mereka bayar.
Lebih parah lagi, platform tersebut hanya menawarkan kompensasi sebesar 20 persen dari total dana nasabah.
Skandal emas digital China dan runtuhnya kepercayaan investor
Kasus JieWoRui memperlihatkan sisi gelap investasi emas digital ketika sistem tidak dibangun dengan prinsip kehati-hatian.
Banyak investor membeli emas secara digital dengan asumsi emas fisiknya benar-benar ada dan dapat ditarik kapan saja. Namun saat terjadi penarikan massal, fakta pahit terungkap.
Beberapa poin penting dari kasus emas digital di China:
- Emas hanya tercatat secara digital tanpa kejelasan cadangan fisik
- Platform tidak siap menghadapi lonjakan penarikan dana
- Likuiditas bermasalah saat kepercayaan investor runtuh
- Nasabah kehilangan akses ke dana dan emas fisik
- Pemerintah China mulai membersihkan platform emas berisiko
Kondisi ini membuat kepercayaan terhadap platform emas online di China anjlok drastis, sementara permintaan emas fisik justru melonjak tajam.
Masalah utama emas digital yang terungkap dari kasus China
Skandal ini menegaskan satu masalah krusial yang sering diabaikan investor, yaitu keberadaan emas fisik. Ketika emas hanya berbentuk angka di layar aplikasi, risiko tetap sepenuhnya berada di tangan pengguna.
Masalah utama yang terungkap meliputi:
- Tidak adanya jaminan emas fisik tersedia
- Proses penarikan fisik yang rumit atau dibatasi
- Transparansi cadangan emas yang minim
- Ketergantungan penuh pada kepercayaan terhadap platform
Ini bukan soal menolak teknologi, melainkan soal memahami bahwa inovasi finansial tanpa pengawasan ketat bisa berujung kerugian besar.
