RADARPEKALONGAN.ID, KOTA PEKALONGAN – Pimpinan Cabang (PC) Aisyiyah Pekalongan Barat memantapkan langkah organisasi melalui penyelenggaraan Musyawarah Pimpinan Cabang (Musypimcab) I di Gedung Dakwah Aisyiyah Pekalongan Barat. Mengusung tema “Dinamisasi Perempuan Berkemajuan Mewujudkan Indonesia Berkeadilan”, forum strategis ini menjadi ajang evaluasi sekaligus perumusan arah gerak organisasi untuk sisa masa kepengurusan.
Kegiatan ini diikuti oleh sedikitnya 60 peserta yang terdiri dari jajaran pleno PCA, Badan Pembantu Pimpinan (BPP), serta pimpinan dari 10 ranting Aisyiyah se-Pekalongan Barat. Musypimcab ini bukan sekadar rutinitas, melainkan amanah AD/ART untuk memastikan program yang direncanakan sejak Muscab 2023 tetap relevan dengan dinamika sosial masyarakat.
Ketua PCA Aisyiyah Pekalongan Barat, Widiastuti Bachir, menjelaskan bahwa musyawarah ini sangat krusial untuk menjaga ritme organisasi agar tetap dinamis dalam melayani umat.
Baca Juga:Nekat Melintas di Jam Sibuk, Puluhan Truk Terjaring Razia dan Ditilang di Jalur Pantura Ketapang Kendal80 Persen Jalan Kota Pekalongan Rusak, DPUPR Prioritaskan Perbaikan Jalan Gatot Subroto Banyurip
“Kami PCA Pekalongan Barat mengadakan Musypimcab I sebagai wadah organisasi untuk mengevaluasi program-program yang telah berjalan, sekaligus menentukan arah gerak organisasi ke depan. Kami berharap seluruh unsur pimpinan dapat berbagi pengalaman dan merumuskan langkah strategis selanjutnya agar program yang dijalankan semakin berdampak,” ujar Widiastuti Bachir, Selasa (3/2/2026).
Aksi Nyata di Tengah Bencana
Kinerja PCA Aisyiyah Pekalongan Barat mendapat apresiasi tinggi dari Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kota Pekalongan. Ketua PDA Kota Pekalongan, Rita Rahmawati, menyoroti bagaimana organisasi perempuan ini tampil di garda terdepan saat Kota Pekalongan dilanda bencana banjir, mulai dari mendirikan dapur umum hingga distribusi ribuan paket pangan.
Rita menekankan bahwa ke depan, program-program Aisyiyah tidak boleh hanya berhenti pada tataran wacana atau bersifat elitis, melainkan harus menyentuh akar rumput.
“Separuh perjalanan ke depan ini harus dirumuskan dengan matang. Program ke depan diharapkan tidak hanya ‘melangit’, tetapi juga membumi. Tidak hanya dirasakan oleh anggota, namun juga oleh masyarakat dan warga Kota Pekalongan secara umum,” tegas Rita Rahmawati.
Literasi Kebencanaan: Lebih dari Sekadar Nasi Bungkus
Dalam forum tersebut, Rita juga menggarisbawahi pentingnya sosialisasi buku kebencanaan yang diterbitkan oleh Aisyiyah. Mengingat kondisi geografis Pekalongan yang rawan bencana, pemahaman masyarakat mengenai mitigasi harus diperluas, tidak hanya terbatas pada bantuan logistik.
