Siasat Nelayan Pekalongan Hadapi Cuaca Ekstrem, Andalkan Aplikasi Cuaca demi Keselamatan dan Ekonomi

Siasat Nelayan Pekalongan Hadapi Cuaca Ekstrem, Andalkan Aplikasi Cuaca demi Keselamatan dan Ekonomi
ISTIMEWA BERSANDAR - Kapal nelayan Kota Pekalongan bersandar di TPI Kota Pekalongan.
0 Komentar

RADARPEKALONGAN.ID, KOTA PEKALONGAN – Cuaca buruk yang mengepung perairan utara Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir mulai melumpuhkan aktivitas ekonomi di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Kota Pekalongan. Gelombang tinggi dan angin kencang memaksa mayoritas nelayan menyandarkan kapal mereka. Namun, di tengah risiko maut, teknologi kini menjadi “kompas” baru bagi mereka yang tetap nekat melaut.

Pantauan di dermaga TPI Kota Pekalongan menunjukkan penurunan drastis aktivitas bongkar muat. Sebagian besar nelayan memilih menunggu kondisi kembali normal. Namun, bagi sebagian kecil lainnya, berhenti melaut berarti terhentinya perputaran ekonomi keluarga. Untuk meminimalisir risiko, mereka kini beralih menggunakan aplikasi pemantau cuaca digital.

Suharto, seorang juru mudi kapal yang ditemui di TPI Kota Pekalongan, mengungkapkan bahwa ia tidak lagi mengandalkan insting semata. Aplikasi seperti Windy kini menjadi kawan setia di atas kapal untuk memantau pergerakan angin secara real-time.

Baca Juga:Sempat Mandek, Program Makan Bergizi Gratis di Kendal Kembali Berjalan Normal dan 24 SPPG Mulai MasakAntisipasi Banjir Susulan, 14 Stasiun Pompa Sungai Bremi-Meduri Pekalongan Kini Beroperasi 24 Jam Penuh

“Sekarang melaut tidak bisa asal berangkat. Saya selalu memantau pergerakan angin dan ketinggian gelombang lewat aplikasi cuaca. Dari situ bisa dicari celah waktu yang relatif aman untuk menebar jaring,” ujar Suharto, Kamis (5/2/2026).

Memburu Window Time di Tengah Badai

Penggunaan teknologi ini memungkinkan nelayan menemukan window time atau jendela waktu singkat di mana laut relatif tenang. Melalui prakiraan cuaca berkala, para juru mudi dapat memutuskan kapan harus berangkat dan kapan harus segera menarik jaring sebelum badai datang menerjang.

Strategi ini berdampak pada durasi melaut yang menjadi jauh lebih singkat. Jika dalam kondisi normal nelayan bisa menghabiskan waktu berminggu-minggu di tengah laut, kini mereka membatasi perjalanan hanya dalam hitungan hari.

“Sekarang paling lama tujuh hari, itu pun kalau cuaca mendukung. Kalau cepat berubah, ya harus cepat pulang. Keselamatan tetap nomor satu,” tambah Suharto menekankan prinsipnya.

Ekonomi yang Bergantung pada Keberuntungan

Meski dibantu teknologi, hasil tangkapan saat cuaca ekstrem tetap tidak menentu. Nelayan sering kali harus puas dengan hasil minimal karena terbatasnya area tangkapan yang bisa dijangkau. Walau begitu, langkah berani ini tetap diambil agar dapur rumah tangga tetap mengepul.

0 Komentar