RADARPEKALONGAN.ID, KOTA PEKALONGAN – Memasuki awal tahun 2026, sektor perhotelan di Kota Pekalongan menghadapi tantangan cukup berat. Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Pekalongan mencatatkan adanya tren penurunan tingkat keterisian kamar atau okupansi dibandingkan dengan periode yang sama pada satu hingga dua tahun sebelumnya.
Berdasarkan data yang dihimpun, rata-rata okupansi hotel di Kota Batik pada awal tahun ini hanya berkisar di angka 35 hingga 40 persen. Kondisi ini dipengaruhi oleh berakhirnya masa libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) serta belum mulainya agenda besar dari sektor pemerintahan maupun korporasi.
Wakil Ketua PHRI Kota Pekalongan, Bahtiar, mengungkapkan bahwa fluktuasi ini sebenarnya mengikuti pola musiman yang kerap terjadi setiap tahun, meski tahun ini dirasakan lebih landai.
Baca Juga:PBNU Soroti Tingginya Kasus Perceraian Pekerja Migran di Kendal, Lakpesdam Gelar Pelatihan PsikososialLuar Biasa! Realisasi Investasi Kota Pekalongan Tahun 2025 Melejit 145 Persen, Lampaui Target Pusat
“Secara grafik, Januari memang biasanya landai. Setelah Nataru, aktivitas perusahaan dan pemerintahan belum berjalan penuh. Meski demikian, aktivitas perhotelan tetap berjalan karena masih ada tamu dari sektor bisnis, budaya, hingga keagamaan,” ujar Bahtiar saat dikonfirmasi, Jumat (6/2/2026).
Dampak Cuaca Ekstrem yang Beragam
Menariknya, kondisi cuaca ekstrem yang melanda wilayah Pekalongan belakangan ini memberikan dampak unik bagi industri ini. Bahtiar menyebut, beberapa hotel justru mendulang tamu dari warga lokal yang memilih mengungsi ke hotel demi keamanan dan kenyamanan akibat cuaca buruk.
Namun, ia menegaskan bahwa fenomena tersebut tidak terjadi di seluruh hotel. “Dengan kondisi cuaca seperti ini, memang ada beberapa hotel yang diuntungkan karena digunakan sebagai tempat mengungsi, tetapi tidak semua hotel merasakan dampak yang sama,” tuturnya secara lugas.
Optimisme di Bulan Februari dan Maret
Kendati awal tahun diawali dengan kelesuan, PHRI memprediksi angin segar akan mulai berhembus pada bulan Februari dan Maret 2026. Para pengelola hotel saat ini tengah gencar menyiapkan berbagai strategi, termasuk paket promo kreatif untuk menarik minat masyarakat.
Salah satu fokus utama adalah program buka puasa bersama (bukber) yang diprediksi akan ramai pada bulan Februari, disusul dengan lonjakan tamu signifikan saat momentum Idul Fitri di bulan Maret.
