RADARPEKALONGAN.ID, KENDAL – Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU memberikan perhatian serius terhadap rapuhnya ketahanan keluarga Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Kabupaten Kendal. Sebagai langkah konkret, PBNU menyelenggarakan Pelatihan Psikososial bagi purna PMI dan keluarga migran di Balai Desa Gubugsari, Kecamatan Pegandon, Kamis, 5 Februari 2026.
Data dari Pengadilan Agama Kendal menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Pada 2024, tercatat sebanyak 2.410 kasus perceraian dari total 2.634 perkara yang masuk. Tren ini berlanjut hingga Agustus 2025, di mana 1.755 dari 1.934 perkara merupakan kasus perceraian. Ironisnya, sebagian besar kasus ini melibatkan keluarga pekerja migran.
Koordinator Tim Pendamping Kabupaten Kendal dari Lakpesdam PBNU, Muhanad Jumiat atau yang akrab disapa Kang Jek, menegaskan bahwa peningkatan taraf ekonomi PMI ternyata tidak berbanding lurus dengan keharmonisan rumah tangga.
Baca Juga:Jalan Rusak Makan Korban, Pemkab Batang Desak Pemprov Jateng Segera Perbaiki Ruas Banyuputih-PlantunganPembunuh Baladiva Divonis Mati! PN Kendal Kabulkan Tuntutan Jaksa, Tangis Haru Keluarga Pecah
“Angka ini menunjukkan persoalan serius dalam ketahanan keluarga PMI. Peningkatan pendapatan keluarga tidak selalu diikuti dengan keharmonisan rumah tangga. Jarak, tekanan kerja, dan minimnya komunikasi kerap menjadi pemicu konflik utama,” ungkap Kang Jek di sela-sela pelatihan.
Membentuk Konselor Sebaya Berbasis Komunitas
Pelatihan bertajuk “Konselor Sebaya Berbasis Komunitas dan Pelatihan Dasar Pengasuhan Anak” ini menghadirkan psikolog Umi Salwa dari Fatayat NU Kendal. Peserta dibekali kemampuan untuk menjadi agen sosialisasi bagi calon PMI agar mampu bekerja secara aman, legal, dan bermartabat, sembari menjaga stabilitas mental keluarga yang ditinggalkan.
Kepala Desa Gubugsari, Nur Azizah, mengapresiasi langkah Lakpesdam PBNU yang menjadikan wilayahnya sebagai pusat edukasi. Ia berharap melalui bimbingan psikososial ini, warganya tidak lagi terjebak dalam praktik migrasi ilegal yang berisiko tinggi.
“Saya berharap pelatihan ini mengedukasi masyarakat dalam penanganan permasalahan pekerja migran. Semoga pekerja migran Gubugsari diberikan kemudahan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarganya. Pesan saya, jangan pernah bekerja ke luar negeri melalui jalur ilegal,” tegas Nur Azizah.
Pentingnya Kesiapan Mental Sebelum Berangkat
Metode pelatihan yang dikemas interaktif lewat dialog dan permainan bertujuan agar keluarga PMI memahami bahwa kesiapan mental dan emosional jauh lebih penting daripada sekadar mencari keuntungan finansial. Tekanan di negara penempatan dan pola pengasuhan anak yang terabaikan sering kali menjadi “bom waktu” bagi keutuhan rumah tangga.
