RADARPEKALONGAN.ID, BATANG – Pengurus Persatuan Tenis Seluruh Indonesia (PELTI) Kabupaten Batang masa bakti 2026–2030 resmi dikukuhkan di Aula Bupati Batang, Kamis (5/2/2026). Kepengurusan baru di bawah komando Novianto Adhi Nugroho ini langsung tancap gas dengan target besar: mengembalikan kejayaan tenis Batang di level Jawa Tengah.
Fokus utama PELTI Batang dalam empat tahun ke depan adalah mematangkan kaderisasi atlet usia dini. Saat ini, bibit-bibit muda potensial tercatat mulai bermunculan di beberapa wilayah, seperti Kecamatan Subah, Warungasem, hingga Limpung.
Ketua PELTI Batang, Novianto Adhi Nugroho, mengungkapkan bahwa kekuatan tenis Batang didukung oleh delapan klub aktif. Untuk memaksimalkan potensi ini, ia akan segera menerapkan skema latihan terpusat.
Baca Juga:Jalan Rusak Makan Korban, Pemkab Batang Desak Pemprov Jateng Segera Perbaiki Ruas Banyuputih-PlantunganPembunuh Baladiva Divonis Mati! PN Kendal Kabulkan Tuntutan Jaksa, Tangis Haru Keluarga Pecah
“Sekarang atlet junior sudah ada dan tersebar di beberapa kecamatan. Ada di Subah, Warungasem, hingga Limpung. Ke depan, pola latihan terpusat penting untuk menyamakan persepsi para pelatih sekaligus mengatur porsi latihan sesuai target jangka panjang. Dengan latihan bersama, programnya bisa disesuaikan dengan kebutuhan atlet dan target prestasi,” ujar Novianto usai pelantikan.
Misi Menuju Porprov 2030
Target jangka panjang yang dipasang adalah meloloskan atlet dan meraih medali pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Tengah 2030. Ambisi ini semakin kuat mengingat Kabupaten Batang diusulkan menjadi salah satu tuan rumah ajang bergengsi tersebut di wilayah Pekalongan Raya.
Novianto optimis Batang bisa mengulang sejarah manis saat meraih medali perunggu di nomor ganda campuran dan tunggal putri pada gelaran Porprov sebelumnya.
Tantangan Kaderisasi dan Minat Atlet
Mantan Wakil Bupati Batang yang kini menjabat tokoh masyarakat, Suyono, memberikan catatan penting mengenai grafik prestasi tenis Batang yang sempat meredup sejak era 2000-an. Menurutnya, kegagalan dalam regenerasi menjadi faktor utama.
“Salah satu tantangan utamanya adalah kaderisasi atlet yang belum berjalan optimal. Ke depan pembinaan harus fokus pada pencarian bibit muda yang memang punya bakat dan minat di tenis. Membina atlet yang sudah memiliki hobi dan insting akan jauh lebih efektif dibanding memaksakan anak yang tidak memiliki minat,” jelas Suyono.
