Banjir Pekalongan Meluas, Lansia Korban Banjir Meninggal di Pengungsian Dupantex Usai Tiga Pekan Terendam

Banjir Pekalongan Meluas, Lansia Korban Banjir Meninggal di Pengungsian Dupantex Usai Tiga Pekan Terendam
HADI WALUYO PENGUNGSI MENINGGAL - Seorang pengungsi lansia, Alipah (85), warga Desa Pacar, Tirto, meninggal dunia di posko pengungsian Dupantex, Sabtu (7/2/2026) siang. Almarhum memiliki riwayat hipertensi dan sebelumnya sudah mendapatkan perawatan dari tim kesehatan Dinkes Kabupaten Pekalongan.
0 Komentar

RADARPEKALONGAN.ID, TIRTO – Bencana banjir yang mengepung wilayah pesisir Kabupaten Pekalongan sejak pertengahan Januari 2026 kini memasuki fase kritis. Selain genangan yang kian meluas akibat kombinasi curah hujan tinggi dan fenomena rob, duka menyelimuti posko pengungsian menyusul meninggalnya seorang pengungsi lanjut usia (lansia).

Alipah (85), warga RT 03 RW 02 Desa Pacar, Kecamatan Tirto, dilaporkan mengembuskan napas terakhir di pos pengungsian PT Dupantex, Sabtu (7/2/2026) pukul 14.40 WIB. Korban yang memiliki riwayat penyakit hipertensi diduga mengalami penurunan kondisi kesehatan akibat faktor usia dan situasi ekstrem di pengungsian.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pekalongan, Agus Pranoto, mengonfirmasi kejadian tersebut dan menyatakan bahwa tim medis sebenarnya telah melakukan pemantauan rutin terhadap kondisi almarhumah.

Baca Juga:Kejari Batang Bongkar Maladministrasi PLN, Rp 7,3 Miliar Kelebihan Bayar Kembali ke Kas DaerahJahirin, Anggota DPRD Pekalongan yang Bawa Napas Advokasi Hukum dari Ruang Sidang ke Kursi Parlemen

“Ya Mas, beliau usia 85, punya riwayat hipertensi. Memang dilematis dalam situasi bencana ini. Tim kesehatan sudah rutin keliling tempat pengungsian untuk pemeriksaan kesehatan. Jenazah sudah diserahkan ke pihak keluarga didampingi pemerintah desa,” ungkap Agus, Sabtu.

Ketahanan Warga Menurun Setelah Tiga Pekan

Banjir yang telah bertahan lebih dari tiga pekan memicu kerentanan kesehatan yang serius bagi 1.764 jiwa pengungsi yang tersebar di 22 titik posko. Selain hipertensi pada lansia, para pengungsi mulai mengeluhkan penyakit khas banjir seperti muntaber, demam, flu, batuk, hingga infeksi kulit.

Ketua RW 02 Desa Pacar, Sonhaji, menuturkan bahwa kondisi banjir di wilayahnya masih cukup tinggi dengan ketinggian mencapai 60 sentimeter. Hal ini membuat warga, termasuk kelompok rentan, tidak memiliki pilihan selain bertahan di masjid atau mushola.

“Almarhumah memang sudah dalam kondisi lemah sebelum mengungsi. Beliau sempat pulang ke rumah karena tidak betah mengungsi di tempat kerabat, namun banjir datang mendadak dan memaksa beliau kembali mengungsi ke Masjid Dupantex,” ujar Sonhaji.

Pekalongan Darurat Logistik dan Kesehatan

Intensitas hujan yang tak kunjung reda memperparah kondisi di enam kecamatan, yakni Wiradesa, Tirto, Sragi, Siwalan, Wonokerto, dan Buaran. Di beberapa titik pesisir seperti Desa Bebel dan Tegaldowo, ketinggian air dilaporkan menembus angka 100 sentimeter.

Pengurus PMI Kabupaten Pekalongan, Bambang Sudjatmiko, merinci bahwa kelompok rentan—mulai dari bayi, ibu hamil, hingga penyandang disabilitas—mendominasi daftar pengungsi di gedung-gedung serbaguna dan sekolah.

0 Komentar