RADARPEKALONGAN.ID, KOTA PEKALONGAN – Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Dinarpus) Kota Pekalongan terus bergerak masif dalam membentengi masyarakat dari ancaman informasi palsu atau hoaks. Melalui kegiatan peningkatan kapasitas literasi digital, Dinarpus kini fokus mencetak agen-agen literasi dari kalangan mahasiswa untuk menjadi garda terdepan di dunia maya.
Sinergi strategis ini bertujuan menciptakan generasi muda yang tidak hanya cakap secara teknis, tetapi juga memiliki ketajaman berpikir dalam menyaring derasnya arus informasi. Mahasiswa dinilai memiliki peran vital untuk mengedukasi lingkungan sekitar agar lebih bijak dalam bermedia sosial.
Kepala Dinarpus Kota Pekalongan, Gufron Faza, menegaskan bahwa penguasaan literasi digital di era sekarang adalah sebuah keharusan. Masyarakat dituntut untuk mampu membedakan fakta dan opini yang menyesatkan.
Baca Juga:Waspada! Dishanpan Jateng Temukan Teri Nasi Berformalin di Pasar Grogolan Pekalongan Saat SidakPanen Raya Gringsing Batang, Produktivitas Padi Tetap Stabil 7 Ton per Hektar di Tengah Cuaca Ekstrem
“Kami berharap masyarakat dapat mempelajari literasi digital dengan baik. Mereka harus mampu mencari informasi, kemudian memilih dan memilah mana informasi yang benar dan mana yang harus ditinggalkan,” ujar Gufron Faza saat memberikan keterangan di Pekalongan, Rabu (25/2/2026).
Ramadan Produktif Bersama TBM Cerdas
Upaya memperkuat budaya literasi ini juga didukung penuh oleh komunitas akar rumput. Ketua Yayasan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Cerdas Kuripan Kertoharjo, Nasrudin Latif, mengapresiasi kolaborasi yang terjalin dengan Bunda Literasi dan pihak dinas.
Bahkan di bulan suci Ramadan, inovasi literasi tetap digenjot melalui berbagai program kreatif yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat luas.
“Ramadan ini kami memiliki program menulis resensi maupun sinopsis karya atau cerita yang berkaitan dengan Kota Pekalongan. Literasi menjadi sesuatu yang baru bagi perpustakaan kami, baik bagi pustakawan maupun masyarakat,” ungkap Nasrudin.
Bukan Sekadar Seremonial
Pihak TBM berharap agar edukasi literasi digital ini menjadi gerakan yang berkelanjutan dan tidak berhenti pada kegiatan seremonial semata. Diperlukan program pendampingan jangka panjang agar budaya kritis dalam mengonsumsi informasi benar-benar mengakar di Kota Batik.
Melalui kolaborasi lintas sektor yang melibatkan akademisi, pemerintah, dan komunitas lokal, Kota Pekalongan optimistis dapat melahirkan agen perubahan yang tangguh. Dengan literasi digital yang kuat, masyarakat diharapkan lebih terlindungi dari dampak negatif manipulasi informasi di internet. (mal)
