RADARPEKALONGAN.ID, KENDAL – Keterbatasan penglihatan bukan menjadi penghalang bagi puluhan umat Islam di Kabupaten Kendal untuk merengkuh keberkahan bulan suci. Semangat tadarus Al-Qur’an tetap membara di kalangan penyandang disabilitas sensorik netra melalui kegiatan Pesantren Kilat Ramadan yang digelar oleh DPC Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Kabupaten Kendal.
Bertempat di Aula KPU Kendal, Sabtu hingga Minggu, 1 Maret 2026, sebanyak 31 peserta tunanetra dari berbagai pelosok Kendal berkumpul untuk memperdalam kemampuan membaca Al-Qur’an huruf braille. Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa akses terhadap kitab suci adalah hak bagi setiap individu, terlepas dari kondisi fisiknya.
Ketua Pertuni Kabupaten Kendal, Imam Sahrozi, menegaskan bahwa organisasi berkomitmen penuh memfasilitasi kebutuhan spiritual para anggotanya, terutama dalam memahami Al-Qur’an secara mandiri.
Baca Juga:Baju Lebaran untuk Korban Banjir, Muslimah Swimming Squad Pekalongan Traktir Puluhan Anak YatimPengajian Ramadan PDM Kendal: Edy Darmoyo Serukan Kebangkitan Umat di Tengah Krisis Moral dan Ekonomi
“Pertuni Kendal memfasilitasi penyandang tunanetra yang ingin belajar membaca huruf braille Al-Qur’an. Ini bagian dari komitmen kami agar teman-teman tunanetra memiliki akses yang sama dalam memahami kitab suci,” tegas Imam Sahrozi saat ditemui di sela kegiatan, Minggu (1/3/2026).
Pembelajaran Intensif dan Terintegrasi
Pesantren kilat ini tidak hanya berfokus pada teknik membaca braille, tetapi juga dirancang sebagai paket lengkap ibadah Ramadan. Para peserta mengikuti kajian Islam bersama Ustaz Ismaini Hatta, buka puasa bersama, salat tarawih berjamaah, hingga sahur dan subuh berjamaah.
Selama proses belajar, para peserta didampingi oleh pembimbing khusus yang telaten mengarahkan jemari mereka mengenali setiap kode huruf Arab dalam bentuk tonjolan titik braille. Saat ini, Pertuni Kendal telah memiliki inventaris mushaf Al-Qur’an braille dan buku panduan sebagai sarana penunjang utama.
Guru pembimbing braille Al-Qur’an, Sofyan, mengingatkan bahwa kunci utama penguasaan metode ini adalah konsistensi dan latihan mandiri di rumah.
“Setiap hari harus membuka modul dan berlatih. Kalau hanya mengandalkan pertemuan sebulan sekali, tidak akan cukup. Kemampuan membaca braille membutuhkan ketekunan dan hafalan kode huruf Arab,” ujar Sofyan secara lugas.
