Guna memastikan keberlanjutan proses belajar, Pertuni Kendal memanfaatkan teknologi dengan membentuk grup diskusi via WhatsApp. Di sana, para peserta dapat bertanya dan berkonsultasi setiap saat mengenai kendala yang dihadapi dalam membaca.
Imam Sahrozi menambahkan, ke depan Pertuni Kendal berencana membuka kelas daring agar jangkauan peserta bisa lebih luas hingga ke wilayah pelosok yang sulit terjangkau transportasi. Program rutin bulanan yang biasanya digelar setiap Sabtu pekan terakhir pun akan terus dioptimalkan.
Melalui pesantren kilat ini, para penyandang tunanetra di Kendal membuktikan bahwa cahaya Al-Qur’an dapat dirasakan melalui sentuhan hati dan jemari, membawa kedamaian spiritual di tengah keterbatasan fisik. (fur)
