Waspada Takjil Mengandung Boraks di Pekalongan, Dinkes Temukan Somay hingga Basreng Positif Zat Bahaya

Waspada Takjil Mengandung Boraks di Pekalongan, Dinkes Temukan Somay hingga Basreng Positif Zat Bahaya
ISTIMEWA PENGAWASAN - Tim Dinas Kesehatan saat melakukan pengawasan takjil di bulan Ramadan.
0 Komentar

RADARPEKALONGAN.ID, KOTA PEKALONGAN – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Pekalongan memperketat pengawasan terhadap peredaran jajanan berbuka puasa sepanjang Ramadan 2026. Berdasarkan hasil inspeksi mendadak (sidak) terbaru, ditemukan pergeseran tren penggunaan bahan tambahan pangan berbahaya dibandingkan tahun sebelumnya.

Jika pada tahun 2025 temuan didominasi oleh formalin pada mie basah, pada tahun 2026 ini kasus formalin dinyatakan nihil. Namun, kabar buruknya, temuan kandungan boraks justru mengalami peningkatan yang cukup signifikan pada beberapa jenis kudapan populer.

Sanitarian Muda Dinkes Kota Pekalongan, Maysaroh, mengungkapkan bahwa dari 200 sampel makanan yang diperiksa tahun ini, terdapat tujuh sampel yang dinyatakan positif mengandung zat berbahaya. Angka ini meningkat dibanding tahun 2025 yang hanya mencatat tiga sampel positif.

Baca Juga:Tragedi Angin Kencang di Batang, 3 Orang Tewas Tertimpa Pohon, Jalur Pantura Subah Lumpuh TotalCuaca Ekstrem Terjang Kendal, Angin Puting Beliung Robohkan GOR Bedjo Taroeno hingga Tenda Pasar Murah

“Di tahun 2026, Dinkes mengambil 68 sampel makanan yang dicurigai mengandung formalin. Hasilnya, seluruh sampel dinyatakan negatif. Namun berbeda dengan formalin, pada 2026 justru ditemukan kasus boraks. Dari 95 sampel yang diperiksa, terdapat enam sampel positif boraks,” jelas Maysaroh dalam keterangannya, Kamis (5/3/2026).

Daftar Takjil Positif Boraks dan Rhodamin

Enam sampel yang terdeteksi mengandung boraks tersebut terdiri dari berbagai jenis panganan yang kerap diburu warga untuk berbuka, di antaranya dua sampel somay, cincau, scalop merah (dengan ciri bagian tengah berbentuk bintang), pentol halus, dan basreng.

Selain boraks, petugas juga menemukan satu sampel positif zat pewarna tekstil (Rhodamin B) pada kerupuk usek berwarna pink mencolok. Secara persentase, temuan zat berbahaya tahun 2026 ini mencapai 3,5 persen, naik dari tahun sebelumnya yang hanya berada di kisaran 1,5 persen.

Maysaroh menyebutkan, salah satu pemicu masih adanya temuan ini adalah kurangnya edukasi pedagang mengenai bahan tambahan pangan. Banyak pedagang yang menganggap boraks identik dengan garam bleng yang aman.

“Ada pedagang yang tidak paham bahwa bahan yang digunakan itu boraks. Mereka mengira garam bleng sama saja dengan boraks. Ini yang akan terus kami edukasi,” ujarnya secara tegas.

Tindakan Tegas dan Penelusuran Produsen

Dinkes Kota Pekalongan memastikan tidak akan tinggal diam. Bagi pedagang yang memproduksi sendiri makanan berbahaya tersebut, akan diberikan pembinaan intensif serta contoh bahan pengganti yang legal dan aman bagi kesehatan.

0 Komentar