Oleh Dr A Hakam Naja
RADARPEKALONGAN.ID – Di tengah kecamuk perang Iran vs Israel-AS dan masih ditutupnya selat Hormuz, sebentar lagi kita akan memasuki Hari Raya Idul Fitri 1447 H/2026 M.
Pemudik Idul Fitri 2026 di negara kita diperkirakan mencapai 143,91 juta orang atau 50,60 persen penduduk Indonesia.
Menurun 1,75% dari survei dan merosot 6,55% dibandingkan realisasi mudik 2025 (Kementerian Perhubungan, 2026).
Penurunan arus mudik Idul Fitri 2026 antara lain dipengaruhi oleh faktor sosial ekonomi masyarakat seperti kenaikan harga atau yang digambarkan dari inflasi bulanan sebesar 0,68% pada Februari 2026 dibandingkan penurunan harga-harga atau deflasi sebesar 0,15% pada Januari 2026 (BPS, 2026).
Baca Juga:Wisuda ke-40 TPQ Al Karomah Tirto Pekalongan Berlangsung Khidmat dan HaruBencana Datang Hak Kesehatan Perempuan dan Anak Jangan Hilang
Daya beli masyarakat yang melemah dan kondisi ekonomi serta politik global yang penuh ketidakpastian. Kurs Dolar AS yang menyentuh Rp17.000 lebih tinggi dari asumsi di APBN 2026 sebesar Rp16.500.
Hal ini menjadikan lonjakan harga barang-barang yang diimpor termasuk makanan, minyak dan gas
Pernyataan pemerintah bahwa harga BBM tidak naik sampai Idul Fitri dan persediaan aman masih menyisakan pertanyaan. Apakah harga BBM setelah Idul Fitri akan naik.
Subsidi energi pada APBN 2026 sebesar Rp210,06 triliun untuk listrik, elpiji dan BBM.
Kalau harga BBM akan tetap dipertahankan ketika harga minyak naik, maka subsidi mesti diperbesar.
Harga minyak mentah Brent yang menjadi acuan Indonesian Crude Price sempat melonjak sampai USD119,5 per barel.
Sementara dalam APBN 2026 harga minyak dipatok pada kisaran USD70 per barel, menjadikan pemerintah perlu memastikan beberapa hal.
Baca Juga:Kisah Isra Mikraj yang Tidak Pernah Selesai DiceritakanCatatan untuk Saudara Ahnaf tentang MDH ala Bung Karno
Pertama, pilihan menaikkan harga BBM atau tetap antara lain dilakukan dengan menerapkan efisiensi energi dan substitusi dengan BBM nabati.
BBM yang dicampur dengan bahan dari sawit, singkong, tebu dan jagung yang dicanangkan Presiden Prabowo menjadi opsi yang eksekusinya perlu dilakukan secara cermat dan profesional.
Budidaya tanaman yang jadi bahan baku campuran BBM mesti memperhatikan kelestarian alam dalam pembukaan secara luas dan tata guna lahannya agar tidak merusak lingkungan yang akan menyebabkan bencana.
Progran Biodiesel B50, campuran solar dengan 50% minyak sawit ditargetkan terealisasi semester II-2026.
Impor solar juga akan dihentikan pada semester II-2026 dengan beroperasinya kilang minyak terintegrasi (Refinery Development Masterplan/RDMP) di Balikpapan, Kalimantan Timur.
