Tren Patungan Sapi Marak, Penjualan Kambing Kurban di Lapak Pedagang Musiman Batang Mengalami Penurunan

Tren Patungan Sapi Marak, Penjualan Kambing Kurban di Lapak Pedagang Musiman Batang Mengalami Penurunan
DOK. ISTIMEWA SEPI - Jual beli Kambing di Jalan Ahmad Dahlan, penjual mengaku sepi pembeli meski harga stabil.
0 Komentar

RADARPEKALONGAN.ID, BATANG – Dinamika pasar hewan ternak menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah di wilayah Kabupaten Batang, Jawa Tengah, mulai memperlihatkan pergeseran tren konsumsi. Di balik menjamurnya lapak sekunder di sepanjang koridor jalan protokol, sejumlah pedagang kambing musiman mengeluhkan penurunan omzet akibat lesunya daya beli masyarakat pada sektor komoditas tersebut.

Fenomena ini salah satunya dirasakan oleh Angga, 28 tahun, seorang penyedia jasa hewan kurban di kawasan Jalan KH Ahmad Dahlan, Kabupaten Batang. Ia mengungkapkan bahwa fluktuasi pasar tahun ini cenderung mengalami perlambatan serapan dibanding periode sebelumnya, meskipun kurva harga kambing di tingkat peternak sejauh ini relatif konvergen dan stabil.

“Kalau tahun ini memang agak sepi. Banyak masyarakat sekarang ikut patungan sapi lewat panitia kurban,” ujar Angga saat memberikan keterangan di lapak dagangannya, Senin (25/5/2026).

Baca Juga:Ibadah Serentak, PDM Kendal Siapkan 60 Lokasi Salat Iduladha dan Lazismu Kejar Target Kurban Rp9 MiliarRawat Tradisi Seni Ketoprak, SMPN 4 Batang Bertekad Menuju Embrio Sekolah Berbasis Budaya di Jawa Tengah

Anomali Preferensi Konsumen dan Peta Harga Komoditas

Angga, yang telah mengelola bisnis perdagangan ternak sejak tahun 2016 pasca-kelulusan institusi pendidikan menengah atas, meneruskan estafet usaha yang sebelumnya dirintis oleh orang tuanya. Untuk memenuhi proyeksi kebutuhan Iduladha tahun ini, ia memasok sekitar 25 ekor kambing lokal varietas Jawa yang didatangkan langsung dari klaster peternakan Batang wilayah selatan.

Penurunan intensitas transaksi ini ditengarai akibat masifnya pola arisan atau kolektif patungan sapi yang diakomodasi oleh panitia penyeleksi kurban di tingkat masjid maupun lembaga sosial. Skema patungan dinilai lebih efisien bagi anggaran domestik warga, sehingga langsung mengoreksi pangsa pasar kambing eceran.

Kendati diterpa penurunan volume penjualan secara umum, Angga mengaku stabilitas usahanya masih tertopang oleh loyalitas basis pelanggan lama. Saat ini, harga kambing ukuran reguler di wilayah Batang dipatok mulai dari Rp2,5 juta per ekor, sedangkan untuk kualifikasi ukuran jumbo menembus angka Rp6,5 juta per ekor.

“Alhamdulillah masih ada pelanggan tetap dari keluarga-keluarga yang dulu langganan bapak,” kata Angga menambahkan bahwa saat ini dirinya masih menyisakan 10 ekor kambing di perimeter lapaknya.

Intervensi Medis Veteriner dan Sertifikasi Kelayakan

Di sisi lain, para pelaku usaha mengapresiasi langkah taktis dari Dinas Pangan dan Pertanian (Dispaperta) Kabupaten Batang yang menerjunkan tim medik veteriner ke lapangan. Peninjauan kelayakan berkala dan pemeriksaan klinis antemortem terhadap komoditas potong tersebut dinilai memberikan jaminan keamanan hayati (biosecurity) bagi masyarakat konsumen.

0 Komentar