Lestarkan Bahasa Daerah, Dindik Kota Pekalongan Wajibkan Mulok Bahasa Jawa SD dan SMP

Lestarkan Bahasa Daerah, Dindik Kota Pekalongan Wajibkan Mulok Bahasa Jawa SD dan SMP
ISTIMEWA. BELAJAR - Siswa di Kota Pekalongan saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah.
0 Komentar

PEKALONGAN, RADARPEKALONGAN.ID — Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Pekalongan mempertegas komitmen pelestarian budaya daerah dengan menetapkan Bahasa Jawa sebagai mata pelajaran muatan lokal (mulok) wajib di seluruh jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Langkah strategis tersebut ditempuh guna membentengi generasi muda dari pengikisan akar budaya di tengah masifnya penggunaan bahasa asing serta bahasa gaul di ruang digital.

Kepala Dindik Kota Pekalongan, Mabruri, mengungkapkan bahwa pembelajaran Bahasa Jawa di sekolah menjadi pilar utama untuk menjaga keberlanjutan penutur asli serta menanamkan etika berbudaya sejak dini.

Baca Juga:Jalan Kaliwungu-Boja Amblas 36 Meter, Dishub Kendal Imbau Truk Besar Batasi MuatanAda Hambatan? Ramalan Keuangan Zodiak 2 Oktober 2026 untuk Sagitarius, Capricorn, Aquarius, dan Pisces

“Bahasa Jawa ini menjadi bagian dari budaya kita yang harus terus kita lestarikan. Tantangannya memang cukup besar, terutama terkait tenaga pengajar yang kompeten dan pengaruh penggunaan bahasa asing di kalangan anak-anak,” ujar Mabruri di Pekalongan, Jumat (2/10/2026).

Menjawab tantangan keterbatasan pendidik berlatar belakang Bahasa Jawa, Dindik Kota Pekalongan secara berkala menggelar pelatihan peningkatan kompetensi bagi guru-guru inti melalui kerja sama dengan Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah.

Selain jalur pendidikan formal, Mabruri menekankan pentingnya sinergi antara pihak sekolah dan orang tua dalam membiasakan penggunaan Bahasa Jawa pada interaksi harian di rumah.

“Kolaborasi antara sekolah dan orang tua sangat penting. Anak-anak tidak cukup hanya belajar di sekolah, tetapi perlu terus dilatih dan dibiasakan menggunakan Bahasa Jawa dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya.

Dindik Kota Pekalongan berharap penguatan kurikulum muatan lokal ini mampu mencetak generasi muda yang unggul secara akademis tanpa kehilangan identitas dan akar budaya daerahnya. (nul)

0 Komentar