KENDAL, RADARPEKALONGAN.ID — Koperasi Peternak Unggas Sejahtera (KPUS) Kendal mengancam akan menggelar aksi unjuk rasa berskala besar melibatkan peternak dari berbagai daerah di Jawa Tengah usai mendapati salah satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menolak menyerap telur rakyat sesuai acuan harga Badan Gizi Nasional (BGN).
Penolakan terjadi di SPPG wilayah Desa Tlahab, Kecamatan Gemuh, yang enggan membeli telur seharga Rp 26.500 per kilogram dengan alasan harga pasar ritel lebih murah, meski BGN telah menerbitkan surat edaran penyerapan guna menyelamatkan peternak dari anjloknya harga kandang.
KPUS mencatat jumlah SPPG di Kendal yang kooperatif menyerap telur peternak lokal justru merosot tajam dari 75 unit pada pertengahan Agustus menjadi hanya 27 unit.
Baca Juga:Ini 5 Zodiak yang Beruntung pada 14 Oktober 2026, Bisa Menambah Pemasukan?Peluang Finansial? Ramalan Keuangan Zodiak 14 Oktober 2026 untuk Sagitarius, Capricorn, Aquarius, dan Pisces
“Kalau tidak ada ketegasan, kami akan melakukan aksi yang lebih besar. Kami memberi tenggat waktu tujuh hari setelah laporan resmi disampaikan ke BGN Pusat agar persoalan ini ditindaklanjuti tegas, bahkan bila perlu ditutup permanen,” ujar PIC Pemasok Telur SPPG KPUS Kendal, Ahmad Subakir, di Kendal.
Subakir menegaskan, kepatuhan SPPG menjalankan instruksi BGN sangat vital untuk menjaga Stabilitas Harga di tingkat produsen yang saat ini tertekan di kisaran Rp 21.000 hingga Rp 22.000 per kilogram.
Jika dalam tujuh hari tidak ada sanksi tegas, KPUS telah mengonsolidasikan dukungan asosiasi peternak dari Batang, Pekalongan, Temanggung, Wonosobo, hingga Magelang untuk turun ke jalan.
Menanggapi polemik tersebut, Koordinator SPPG Kendal, M. Faris Maulana, menyatakan bahwa pihaknya telah mengarahkan penyerapan sesuai kesepakatan bersama BGN dan Kementerian Pertanian, namun kini masih menunggu arahan teknis BGN Pusat terkait penanganan unit SPPG yang menolak harga acuan. (fur)
